Sheryl Crow Kecam Perayaan 'Freedom 250' Trump: 'Hinaan bagi Rakyat Amerika'
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Sheryl Crow mengecam perayaan ulang tahun ke-80 Donald Trump yang digabung dengan peringatan 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan AS sebagai acara yang tidak bermoral.
- Kritik Crow menyoroti kontras antara kemewahan acara yang menampilkan UFC di halaman Gedung Putih dengan kesulitan ekonomi yang dihadapi warga AS.
- Komentar rasis petarung Josh Hokit tentang Michelle Obama turut memicu kontroversi, meski Presiden UFC Dana White kemudian mengecamnya.

Penyanyi legendaris Sheryl Crow melontarkan kritik pedas terhadap perayaan 'Freedom 250' yang digelar di Gedung Putih pada Minggu (14/6) lalu. Acara yang merayakan ulang tahun ke-80 Presiden Donald Trump sekaligus peringatan dini 250 tahun penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan AS itu dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap rakyat Amerika yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup.
Melalui unggahan di Instagram Story-nya, pelantun 'Soak Up The Sun' itu menyebut acara tersebut sebagai 'aib yang tidak memiliki rasa kesusilaan'. Crow menulis, 'Apa yang terjadi tadi malam di halaman Gedung Putih adalah sesuatu yang memalukan dan tanpa moral. Orang-orang kaya dan berkuasa memadati halaman untuk menyaksikan olahraga kekerasan yang berakhir dengan komentar keji dan rasis. Sementara itu, rakyat biasa tidak mampu membayar layanan kesehatan, bensin, dan biaya hidup.'
Kritik Crow tidak berhenti di situ. Ia menuding pemerintahan Trump sebagai 'korup' dan tidak peduli terhadap rakyatnya. 'Jangan tertipu. Pemerintahan ini korup dan sama sekali tidak peduli pada rakyat Amerika. Mereka hanya peduli meraup uang sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan demokrasi kita,' tegasnya. Crow juga mengajak publik untuk tidak terus mendukung 'gangguan dari kenyataan' semacam ini.
Kontroversi semakin memanas setelah petarung Josh Hokit, yang baru saja memenangkan pertarungannya, melontarkan pernyataan ofensif tentang mantan Ibu Negara Michelle Obama. Dalam wawancara dengan Joe Rogan, Hokit menyebut Michelle Obama sebagai 'laki-laki' dan menyerukan dukungan untuk Trump. Ucapan itu langsung memicu kecaman luas, termasuk dari Presiden UFC Dana White. 'Saya benci komentar semacam itu. Meskipun Obama adalah figur publik, mengatakan hal-hal keji dan palsu tentang keluarga mereka adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan,' ujar White kepada majalah TIME.
Bagi publik Indonesia, kritik Sheryl Crow ini menjadi pengingat bahwa polarisasi politik di Amerika Serikat terus menajam, terutama di tahun pemilu. Peristiwa ini juga menyoroti bagaimana figur publik menggunakan platform mereka untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil. Di tengah kenaikan biaya hidup global, kritik semacam ini relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana kesenjangan ekonomi dan biaya kesehatan juga menjadi isu hangat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kritik dari kalangan selebritas seperti Sheryl Crow mampu menggerakkan perubahan nyata, atau hanya akan tenggelam dalam hiruk-pikuk politik Amerika yang semakin memanas. Yang jelas, peristiwa ini menambah daftar panjang kontroversi yang mewarnai masa kepresidenan Trump.



