Zaniolo Resmi Dibeli Udinese, tapi Gaji Jadi Batu Sandungan
Baca dalam 60 detik
- Udinese mengaktifkan klausul pembelian permanen Nicolo Zaniolo dari Galatasaray senilai €5 juta, dengan klausul penjualan kembali 50%.
- Meski performanya impresif (7 gol, 7 assist), Zaniolo kecewa karena gaji yang disepakati saat peminjaman dianggap tidak mencerminkan nilai pasarnya.
- Agen pemain membuka peluang negosiasi ulang kontrak, namun ketegangan bisa memengaruhi stabilitas skuad Udinese musim depan.

Udinese resmi mempermanenkan status Nicolo Zaniolo setelah masa peminjaman satu musim dari Galatasaray berakhir. Namun, di balik kepastian transfer itu, tersimpan kekecewaan mendalam sang pemain terkait nilai kontrak yang dinilai tidak sepadan dengan kontribusinya di lapangan.
Klub Serie A itu mengaktifkan klausul pembelian senilai €5 juta—angka yang tergolong murah untuk pemain berusia 26 tahun. Dalam kesepakatan tersebut, Galatasaray juga menyertakan klausul penjualan kembali sebesar 50% jika suatu saat Zaniolo dijual. Keputusan ini diambil setelah Zaniolo mencatatkan tujuh gol dan tujuh assist dalam 34 penampilan di semua kompetisi musim 2025-26, cukup meyakinkan manajemen Udinese untuk mempertahankannya.
Namun, di balik angka-angka itu, terdapat ketegangan yang tak terlihat. Agen Zaniolo, Claudio Vigorelli, mengungkapkan bahwa kliennya merasa “kecewa dan frustrasi” dengan situasi kontrak yang ada. Menurut Vigorelli, saat transfer pinjaman terjadi pada menit-menit akhir bursa musim panas lalu, negosiasi dilakukan secara terburu-buru sehingga gaji yang tercantum dalam opsi pembelian tidak mencerminkan nilai sebenarnya dari Zaniolo.
“Kami tentu senang dengan dampak Nicolò di Udinese, tapi sekarang perlu ada kesepakatan soal gaji agar masa tinggalnya benar-benar kokoh,” ujar Vigorelli kepada media Italia, termasuk Gazzetta dello Sport. Ia menambahkan bahwa kedua pihak sebelumnya sepakat untuk duduk bersama merundingkan ulang kontrak sebelum opsi pembelian dieksekusi. Namun, kenyataannya, Udinese langsung mengaktifkan klausul tanpa negosiasi ulang yang dijanjikan.
Direktur Udinese, Gokhan Inler, beberapa pekan lalu justru memuji performa Zaniolo dan menyebutnya layak dipanggil tim nasional Italia untuk kualifikasi Piala Dunia. Pujian itu kontras dengan situasi kontrak yang kini memanas. Bagi Udinese, kehilangan Zaniolo karena masalah gaji akan menjadi pukulan telak, mengingat ia menjadi salah satu motor serangan tim musim ini.
Dari perspektif sepak bola Indonesia, kasus Zaniolo mengingatkan pada pentingnya kontrak yang jelas dan negosiasi yang matang, terutama bagi pemain yang datang dengan status pinjaman. Klub-klub Liga 1 yang kerap meminjam pemain asing bisa belajar dari sini: kesepakatan awal yang terburu-buru berpotensi menimbulkan konflik di kemudian hari. Selain itu, nilai transfer yang relatif rendah untuk pemain sekelas Zaniolo menunjukkan bahwa pasar pemain Eropa tetap volatil, dan klub harus cermat dalam menyusun klausul.
Vigorelli menegaskan bahwa pihaknya tetap terbuka untuk berdiskusi dengan Udinese. “Kami berharap bisa mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak,” katanya. Namun, jika negosiasi gagal, bukan tidak mungkin Zaniolo akan mencari jalan keluar—entah melalui transfer lain atau bahkan meminta pemutusan kontrak. Pertanyaannya, akankah Udinese bersedia menaikkan gaji sesuai ekspektasi sang pemain, atau justru memilih melepasnya dengan keuntungan dari klausul penjualan? Hanya waktu yang akan menjawab.



