Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Mobil, Polisi DIY Buka Pintu Laporan
Baca dalam 60 detik
- Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM UGM, menemukan dua perangkat PBX Finder menempel di mobilnya saat perjalanan Semarang-Yogyakarta.
- Polda DIY mempersilakan Tiyo membuat laporan resmi sebagai dasar penyelidikan, meski belum ada laporan masuk.
- Tiyo menduga pemasangan alat itu bagian dari intimidasi, mengingat aktivitasnya sebagai aktivis kritis.

Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menemukan dua alat yang diduga pelacak terpasang di kendaraan pribadinya saat melakukan perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta. Temuan ini langsung direspons Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) yang mempersilakan Tiyo untuk segera membuat laporan resmi sebagai langkah awal penyelidikan.
Kepala Bidang Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, menyatakan bahwa pihaknya belum menerima laporan formal dari Tiyo. Meski demikian, jajarannya tetap melakukan pemantauan dan pengumpulan informasi awal untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. "Kami mempersilakan saudara Tiyo atau pihak yang dirugikan untuk segera membuat laporan resmi ke Polda DIY. Laporan tersebut penting sebagai dasar hukum bagi kami untuk melakukan penyelidikan secara prosedural, objektif, dan mendalam," ujar Ihsan dalam keterangannya, Senin (15/6).
Tiyo mengaku masih mempertimbangkan langkah pelaporan sambil melakukan investigasi mandiri. Ia menemukan alat bernama PBX Finder setelah menerima notifikasi dari perangkat tersebut saat berkendara. Alat pertama berbentuk kotak bermagnet ditempel di bodi belakang mobil, sementara alat kedua berbentuk lingkaran pipih yang direkatkan dengan lakban hitam di ban kanan belakang. Kedua alat itu ditemukan dalam waktu berbeda: alat pertama saat di Yogyakarta, alat kedua saat perjalanan pulang ke Semarang.
Menurut Tiyo, kejadian ini bermula saat ia mengisi diskusi di Semarang pada Sabtu (13/6). Ia menyadari adanya beberapa orang tak dikenal yang menguntit dan memotretnya secara terang-terangan. "Itu menurut saya jadi aba-aba bahwa saya memang sedang diintai," kata Tiyo. Setelah diskusi, ia menuju Yogyakarta untuk mengikuti aksi demonstrasi di Gejayan. Selama perjalanan, notifikasi pelacak terus muncul, mengonfirmasi kecurigaannya.
Tiyo menduga pemasangan alat pelacak ini merupakan bentuk intimidasi. Ia menilai bahwa alat tersebut sengaja dipasang agar ia mengetahui bahwa pergerakannya selalu terpantau. "Saya kira justru itulah letak di mana terornya terjadi. Bahwa ini sengaja dipasang untuk saya ketahui supaya jadi alarm bagi diri saya bahwa ke mana pun saya pergi ada orang-orang yang tahu, ada orang-orang yang mengamati," pungkasnya. Kekhawatiran ini semakin kuat karena ia tidak mengetahui apakah kedua alat tersebut saling terkait atau berasal dari pihak yang berbeda.
Kasus ini menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi pelacak terhadap aktivis di Indonesia. Meski belum ada laporan resmi, respons cepat Polda DIY menunjukkan keseriusan aparat dalam menangani dugaan pelanggaran hukum. Ke depan, publik menanti apakah Tiyo akan menempuh jalur hukum dan bagaimana hasil penyelidikan kepolisian jika laporan resmi diajukan.



