Jejak Katib Aam: Gus Ipul Buka Peluang Nasaruddin Umar Pimpin PBNU
Baca dalam 60 detik
- Sekjen PBNU Saifullah Yusuf menilai Menteri Agama Nasaruddin Umar punya kans besar menjadi ketua umum karena pernah menjabat Katib Aam.
- Dalam 40 tahun terakhir, tiga ketua umum PBNU—Gus Dur, Hasyim Muzadi, Yahya Cholil Staquf—berangkat dari posisi Katib Aam.
- Nama Nasaruddin disebut-sebut di berbagai forum daerah, namun keputusan akhir bergantung pada dinamika menjelang Muktamar NU.

Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), nama Menteri Agama Prof. KH. Nasaruddin Umar kian mencuat sebagai calon kuat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, secara terbuka mengakui potensi tersebut merujuk pada rekam jejak organisasi Nasaruddin.
Gus Ipul menyebut bahwa posisi Katib Aam PBNU—yang pernah diemban Nasaruddin pada era kepemimpinan KH Hasyim Muzadi—menjadi batu loncatan strategis menuju kursi tertinggi organisasi. "Kalau melihat statistik dan pengalaman yang ada selama ini, beliau sangat berpotensi," ujar Gus Ipul usai meninjau persiapan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Selasa (16/6).
Meski demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa pernyataannya bukan bentuk kampanye untuk figur tertentu. Ia hanya merespons geliat diskusi di akar rumput yang belakangan ramai menyebut nama Nasaruddin. "Kalau saya berkeliling ke beberapa daerah, memang nama Prof Nasar cukup banyak disebut. Itu yang saya dengar dari berbagai kalangan," katanya.
Dalam analisisnya, Gus Ipul memaparkan pola kepemimpinan PBNU selama empat dekade terakhir. Tiga ketua umum sebelumnya—KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, dan KH Yahya Cholil Staquf—semuanya pernah menjabat Katib Aam sebelum memimpin organisasi. Pola ini, menurut Gus Ipul, menunjukkan bahwa posisi Katib Aam memiliki rekam jejak kuat dalam melahirkan pemimpin NU.
Gus Ipul juga menyoroti jalur alternatif menuju kursi ketua umum. Ia mencontohkan KH Idham Chalid yang sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal PBNU, sementara KH Hasyim Muzadi menapaki puncak karier setelah memimpin PWNU Jawa Timur. Keragaman latar belakang ini, menurutnya, memperkaya dinamika suksesi di tubuh NU.
Namun, Gus Ipul mengingatkan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan peserta muktamar. "Selebihnya tentu akan ditentukan oleh dinamika yang berkembang menjelang muktamar," ujarnya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa meskipun Nasaruddin memiliki modal historis yang kuat, persaingan masih terbuka lebar.
Muktamar NU yang rencananya digelar pada akhir tahun ini akan menjadi panggung penentuan arah kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pola Katib Aam kembali berulang, atau justru muncul kejutan dari jalur lain?



