Sabu di Organ Intim hingga Kunciran Rambut: Petugas Lapas Gagalkan Empat Penyelundupan dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Dua pengunjung Lapas Narkotika Jakarta menyembunyikan sabu di organ intim, total 29 gram, berhasil digagalkan petugas.
- Di Rutan Salemba, petugas menemukan cairan Etomidate dalam botol obat batuk dan 40 gram sabu di kunciran rambut pengunjung.
- Kanwil Ditjenpas DKI Jakarta menegaskan komitmen zero halinar dan akan memperketat pengawasan untuk mencegah peredaran narkoba di lapas.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260463/original/088984400_1781595361-Barang_bukti_pengungkapan_sabu_di_lapas.jpeg)
Petugas pemasyarakatan di Jakarta berhasil menggagalkan empat upaya penyelundupan narkoba dalam satu hari, dengan modus yang semakin ekstrem—dari menyembunyikan sabu di organ intim hingga menyelipkannya di kunciran rambut. Pengungkapan ini menjadi alarm bagi sistem keamanan lembaga pemasyarakatan yang terus diuji kreativitas para pelaku.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan DKI Jakarta, Wachid Wibowo, mengungkapkan bahwa pada Senin (15/6/2026) petugas Lapas Narkotika Jakarta menangkap dua pengunjung yang membawa sabu dengan cara disembunyikan di organ intim. "Dari hasil pemeriksaan awal, kedua pelaku menggunakan modus yang sama, yakni menyembunyikan paket diduga narkotika di bagian organ intim untuk mengelabui petugas," kata Wachid. Pada kasus pertama, petugas menyita dua paket sabu seberat 8,72 gram, sementara kasus kedua menghasilkan barang bukti 20,30 gram. Keduanya terdeteksi saat pemeriksaan di Pintu Pengamanan Utama (P2U).
Di hari yang sama, Rutan Kelas I Jakarta Pusat (Salemba) juga berhasil menggagalkan dua penyelundupan dengan modus berbeda. Seorang pengunjung wanita berinisial NA (22) diduga mencoba membawa masuk cairan Etomidate yang disamarkan dalam botol obat batuk. Kecurigaan petugas muncul karena isi botol tidak sesuai dan mengeluarkan aroma tidak wajar. Sementara itu, pengunjung lain berinisial MU (39) menyembunyikan sabu seberat 40,1 gram di dalam kunciran rambutnya. Petugas wanita yang melakukan pemeriksaan menemukan paket tersebut setelah meraba bagian rambut yang tidak wajar.
Wachid menegaskan bahwa keberhasilan ini menunjukkan sistem pengamanan dan deteksi dini di seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan DKI Jakarta berjalan efektif. "Keberhasilan petugas menggagalkan empat upaya penyelundupan narkoba dalam waktu yang hampir bersamaan merupakan bukti bahwa sistem pengamanan, deteksi dini, dan pengawasan di seluruh UPT Pemasyarakatan DKI Jakarta berjalan dengan baik," ujarnya. Ia juga memberikan apresiasi kepada petugas yang dinilai tetap siaga, profesional, dan berintegritas.
Bagi Indonesia, pengungkapan ini menjadi pengingat bahwa peredaran narkoba di dalam lapas masih menjadi tantangan serius. Meskipun pemerintah telah mencanangkan program zero halinar (narkoba, handphone, pungli), temuan ini membuktikan bahwa celah keamanan masih ada. Modus penyembunyian yang semakin kreatif menuntut peningkatan kualitas pemeriksaan, termasuk penggunaan alat deteksi modern dan pelatihan petugas secara berkala. Sinergi dengan aparat penegak hukum seperti BNN dan kepolisian juga perlu diperkuat untuk memutus rantai pasokan dari luar.
Wachid berkomitmen untuk terus memperkuat pengawasan dan evaluasi. "Kami berkomitmen penuh menjalankan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan serta Direktur Jenderal Pemasyarakatan untuk mewujudkan zero halinar. Setiap upaya penyelundupan akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku," tegasnya. Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah petugas mampu menggagalkan modus baru, tetapi sejauh mana sistem pencegahan bisa diperbaiki agar narkoba tidak lagi menjadi barang yang diperebutkan di balik jeruji besi.



