Wayne Coyne Dirawat karena Pneumonia, The Flaming Lips Batalkan Konser di Wina
Baca dalam 60 detik
- Vokalis The Flaming Lips, Wayne Coyne, dirawat di rumah sakit akibat pneumonia, memaksa band membatalkan konser di Wina.
- Pembatalan terjadi di tengah jadwal tur Eropa yang padat, termasuk panggung di Italia dan Inggris Raya.
- Coyne pernah mengalami pengalaman mendekati kematian saat remaja yang membentuk keberaniannya dalam berkesenian.

Vokalis The Flaming Lips, Wayne Coyne, harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah didiagnosis menderita pneumonia, memaksa band asal Oklahoma itu membatalkan konser mereka di Wina pada Senin (15/5) malam. Keputusan mendadak ini diumumkan melalui akun Instagram resmi grup, disertai foto Coyne terbaring di ranjang rumah sakit.
Dalam pernyataan resmi, manajemen The Flaming Lips menyampaikan permohonan maaf kepada para penggemar di Wina. “Kami benar-benar menyesal, Wina, tetapi pertunjukan malam ini di Gasometer dibatalkan. Wayne terkena pneumonia dan diperintahkan untuk istirahat total. Semua refund tersedia di tempat pembelian,” tulis mereka. Konser yang sedianya digelar di Gasometer, salah satu venue terbesar di ibu kota Austria, terpaksa batal hanya beberapa jam sebelum panggung dimulai.
Coyne, yang kini berusia 65 tahun, masih dalam pemantauan medis. Pertanyaan besar kini menggantung: apakah ia akan pulih tepat waktu untuk konser berikutnya di Bologna, Italia, pada Kamis (18/6)? Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi mengenai kondisi terkini sang vokalis. Jadwal tur Eropa The Flaming Lips memang padat; setelah Italia, mereka dijadwalkan memulai panggung Inggris Raya dan Irlandia di Galway pada 16 Juli, dilanjutkan ke Halifax, Glasgow, Margate, Wolverhampton, dan Cardiff. Band ini juga diagendakan tampil di Latitude Festival dan Splendour Festival di Nottingham.
Di balik kabar kurang menyenangkan ini, Coyne memiliki sejarah panjang menghadapi situasi genting. Dalam wawancara dengan The Guardian pada 2022, ia mengungkapkan pengalaman traumatis saat remaja yang membentuk sikapnya terhadap hidup dan seni. Saat berusia 17 tahun, ia bekerja di sebuah restoran pizza yang dirampok. Para perampok mengarahkan senjata ke kepalanya. “Saya pikir itu membuat saya tidak terlalu takut untuk melakukan hal-hal atas nama seni,” ujarnya. “Setelah Anda berdiri dengan pistol di kepala dan berpikir, ‘Saya akan mati,’ hal-hal kecil tidak lagi mengganggu Anda. Itu pasti membentuk keganasan saya—jika itu kata yang tepat.”
Coyne baru menyadari bahwa pengalaman itu tidak normal setelah bertahun-tahun. “Saat itu, saya mengira semua orang pasti hampir mati dua atau tiga kali saat tumbuh dewasa. Baru kemudian saya sadar: itu tidak normal,” kenangnya. Filosofi inilah yang mendorong The Flaming Lips terus bereksperimen dengan musik psikedelik dan pertunjukan panggung spektakuler, termasuk penggunaan gelembung raksasa dan confetti.
Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini mungkin terasa jauh, tetapi The Flaming Lips memiliki basis penggemar setia di Tanah Air, terutama di kalangan penikmat musik indie dan alternatif. Meski belum pernah manggung di Indonesia, album-album seperti Yoshimi Battles the Pink Robots dan The Soft Bulletin menjadi referensi penting bagi musisi lokal. Kondisi kesehatan Coyne menjadi pengingat bahwa di balik panggung megah, para musisi juga rentan terhadap penyakit serius.
Ke depan, publik menanti kepastian apakah Coyne akan pulih tepat waktu untuk melanjutkan tur. Jika kondisinya membaik, The Flaming Lips masih memiliki jadwal padat hingga akhir musim panas. Namun, jika pneumonia memaksanya istirahat lebih lama, bukan tidak mungkin beberapa konser lagi akan terpengaruh. Akankah semangat “fierceness” Coyne kembali membawanya ke panggung?



