Obligasi Danantara Ludes Terserap: Permintaan Investor Tembus US$ 4,6 Miliar, AS Jadi Pembeli Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Danantara berhasil mengumpulkan US$ 1,5 miliar dari penerbitan obligasi setelah permintaan investor global mencapai US$ 4,6 miliar, tiga kali lipat dari target awal.
- Investor Amerika Serikat mendominasi pembelian obligasi tenor 10 tahun dengan porsi 52%, menandakan kepercayaan kuat terhadap prospek ekonomi Indonesia.
- Keberhasilan ini memperkuat posisi Danantara sebagai lembaga investasi yang kredibel di mata pasar global, sejalan dengan peringkat investment grade yang setara dengan sovereign rating Indonesia.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa penerbitan obligasi perdana perusahaan tersebut menuai sambutan luar biasa dari investor global. Dalam lawatan ke pusat-pusat keuangan dunia seperti New York, London, Singapura, dan Hong Kong, Danantara bertemu dengan 122 calon investor dan menerima permintaan hingga US$ 4,6 miliar—jauh melampaui target awal sebesar US$ 1 miliar.
"Melihat animo yang begitu tinggi, akhirnya kami meningkatkan nilai penerbitan dari US$ 1 miliar menjadi US$ 1,5 miliar, yang terbagi dalam dua tenor, yaitu 5 tahun dan 10 tahun," ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (15/6/2026). Lonjakan permintaan ini menunjukkan bahwa instrumen utang Danantara dianggap sebagai aset menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Yang menarik, investor asal Amerika Serikat justru menjadi pembeli terbesar obligasi Danantara, terutama untuk tenor 10 tahun. Sebanyak 52% dari total obligasi jangka panjang tersebut diserap oleh institusi keuangan AS, disusul Eropa dan Timur Tengah sebesar 31%, serta Asia 17%. "Yang justru peminat dan yang membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat. Ini membuktikan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia itu ada dan real," tegas Rosan.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peringkat kredit yang diperoleh Danantara sebelum melakukan roadshow. Lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's, S&P, dan Fitch memberikan rating investment grade yang setara dengan peringkat surat utang pemerintah Indonesia. Di dalam negeri, Pefindo juga memberikan peringkat tertinggi, yaitu AAA. Hal ini menjadi sinyal kuat bagi investor bahwa risiko gagal bayar Danantara sangat rendah.
Bagi pasar Indonesia, aksi borong obligasi Danantara oleh investor asing menjadi angin segar di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan arus modal keluar yang sempat terjadi. Kepercayaan investor global terhadap instrumen utang yang diterbitkan oleh lembaga di bawah kendali pemerintah ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dipandang positif. Apalagi, tingkat kupon yang ditawarkan—5,35% untuk tenor 5 tahun dan 5,95% untuk tenor 10 tahun—tergolong kompetitif dibandingkan obligasi negara berkembang lainnya.
Rosan menambahkan, tingginya minat investor juga menjadi bukti bahwa strategi Danantara dalam mengelola investasi dan hilirisasi mendapat sambutan baik. "Ini membuktikan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia itu ada dan real," katanya. Ke depan, Danantara diproyeksikan akan menerbitkan obligasi lanjutan dengan skema serupa, terutama untuk membiayai proyek-proyek strategis nasional di sektor energi, infrastruktur, dan hilirisasi.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah antusiasme ini akan bertahan dalam jangka panjang, terutama jika kondisi global berubah drastis. Namun, untuk saat ini, Danantara telah mencatatkan prestasi yang sulit ditandingi oleh lembaga sejenis di kawasan.



