Likuiditas Perbankan Nigeria Mengetat, Suku Bunga Overnight Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Bank sentral Nigeria menyerap sekitar N4 triliun likuiditas melalui lelang OMO, memicu kenaikan suku bunga overnight ke 22,21%.
- Pengetatan likuiditas terjadi di tengah minimnya aliran masuk pasar primer dan perlambatan aktivitas bank di fasilitas deposito.
- Suku bunga jangka panjang justru turun, mengindikasikan ekspektasi inflasi yang lebih rendah atau permintaan kredit yang lemah.

Lonjakan suku bunga pinjaman semalam (overnight rate) di Nigeria menembus level 22,21% pada Senin (14/4), menyusul aksi agresif bank sentral dalam menyerap kelebihan likuiditas perbankan. Langkah ini menjadi sinyal bahwa otoritas moneter terus berupaya mengendalikan tekanan inflasi meskipun harus mengorbankan kelonggaran di pasar uang.
Dalam sepekan terakhir, Bank Sentral Nigeria (CBN) menggelar lelang operasi pasar terbuka (OMO) yang berhasil menarik dana sekitar N4 triliun dari bank umum dan investor asing. Alokasi yang besar itu langsung menggerus likuiditas sistem keuangan, yang pada Senin tercatat menyusut menjadi N3,05 triliun dari posisi sebelumnya N4,63 triliun. Akibatnya, suku bunga acuan jangka pendek pun merangkak naik.
Analis dari Futureview Financial Limited menilai pengetatan ini merupakan konsekuensi dari kebijakan moneter yang masih ketat. โTidak ada aliran masuk signifikan dari pasar primer, dan bank-bank juga mengurangi partisipasi di fasilitas deposito bank sentral,โ ujar mereka dalam catatan riset. Kondisi ini memicu kenaikan Nigerian Interbank Offered Rate (NIBOR) untuk tenor semalam sebesar 14 basis poin.
Menariknya, pergerakan suku bunga tidak seragam di semua tenor. Cowry Asset Management Limited mencatat bahwa NIBOR untuk tenor 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan justru mengalami penurunan masing-masing sebesar 56 bps, 84 bps, dan 119 bps. Divergensi ini mengindikasikan bahwa tekanan likuiditas lebih terasa pada jangka pendek, sementara ekspektasi inflasi jangka menengah mungkin mulai mereda atau permintaan kredit masih lesu.
Di sisi lain, suku bunga Open Repo (ORP) bertahan di level 22,00%, sementara imbal hasil rata-rata surat utang negara (Treasury bills) ditutup flat di 17,74%. Pasar obligasi menunjukkan sikap hati-hati, dengan investor cenderung menunggu kejelasan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Bagi Indonesia, dinamika serupa pernah terjadi saat Bank Indonesia gencar melakukan operasi moneter untuk menyerap likuiditas guna menekan inflasi. Kenaikan suku bunga overnight di Nigeria bisa menjadi pengingat bahwa kebijakan pengetatan yang terlalu agresif berisiko mengeringkan likuiditas dan menekan sektor riil. Namun, jika inflasi masih tinggi, langkah tersebut sulit dihindari. Pertanyaan selanjutnya adalah: sejauh mana CBN akan mempertahankan tekanan ini, dan apakah sektor perbankan Nigeria mampu beradaptasi tanpa mengganggu pertumbuhan kredit?



