Capcom Bongkar Resep Sukses: Tinggalkan Model Pengembangan Berpusat pada Satu Kreator
Baca dalam 60 detik
- Capcom mengklaim kesuksesan beruntunnya berasal dari peralihan ke model pengembangan berbasis tim, bukan lagi bergantung pada satu figur kreator.
- Presiden Capcom Haruhiro Tsujimoto menilai pendekatan lama membuat waralaba rentan jika kreator utama hengkang, seperti yang terjadi pada Shinji Mikami dan Resident Evil.
- Model baru ini juga memudahkan transfer keahlian antargenerasi pengembang, menjaga kualitas seri tetap tinggi dalam jangka panjang.

Capcom, pengembang gim asal Jepang di balik waralaba legendaris seperti Resident Evil dan Monster Hunter, tengah menikmati masa keemasan. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini konsisten merilis gim yang sukses secara komersial maupun kritis. Namun, di balik rentetan pencapaian itu, Presiden Capcom Haruhiro Tsujimoto mengungkapkan bahwa kunci utamanya bukanlah sekadar bakat individu, melainkan perubahan fundamental dalam cara mereka mengembangkan gim.
Dalam sebuah wawancara, Tsujimoto menjelaskan bahwa Capcom secara sadar meninggalkan model pengembangan yang berpusat pada satu kreatorโsebuah praktik yang lazim di industri gim, di mana sebuah seri sangat bergantung pada visi seorang desainer atau sutradara tertentu. Model seperti ini, menurutnya, justru menjadi bumerang. Jika sang kreator utama meninggalkan perusahaan, masa depan waralaba tersebut menjadi tidak menentu. Contoh nyata adalah kepergian Shinji Mikami, kreator Resident Evil, yang sempat membuat masa depan seri horor itu dipertanyakan.
"Kami berdiskusi dengan para tokoh kunci di balik setiap waralaba dan akhirnya sepakat untuk meninggalkan pendekatan itu. Kami memilih untuk merombak total setiap judul. Kami tidak masalah meskipun penjualan turun sementara, dan dengan mengadopsi pendekatan pengembangan gim berbasis tim, Capcom mengalami transformasi radikal," ujar Tsujimoto.
Transformasi ini memungkinkan Capcom untuk mempertahankan kualitas dan konsistensi lintas seri, tanpa harus bergantung pada satu figur. Hasilnya, waralaba seperti Resident Evil tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berevolusi dengan perilisan seperti Resident Evil 7 dan remake yang mendapat pujian. Model tim juga memudahkan regenerasi pengembang, karena pengetahuan dan keahlian tidak lagi tersimpan pada satu orang, melainkan tersebar di seluruh tim.
Pendekatan ini juga relevan bagi industri gim di Indonesia, yang mulai melirik model pengembangan berbasis tim. Beberapa studio lokal seperti Toge Productions dan Agate telah mengadopsi struktur serupa untuk mengurangi risiko ketergantungan pada individu. Namun, tantangan terbesar adalah membangun budaya kolaborasi yang kuat di tengah keterbatasan sumber daya. Capcom membuktikan bahwa investasi dalam struktur tim jangka panjang dapat menghasilkan keuntungan berkelanjutan, sebuah pelajaran berharga bagi ekosistem gim Tanah Air yang tengah berkembang.
Ke depan, Capcom diperkirakan akan terus memperkuat model ini dengan merilis judul-judul baru dari waralaba yang sudah ada maupun properti intelektual segar. Pertanyaan yang muncul: akankah model ini menjadi standar baru di industri gim global, atau justru hanya cocok untuk perusahaan dengan sumber daya besar seperti Capcom? Yang jelas, transformasi ini telah mengubah cara pandang industri terhadap risiko kreatif dan keberlanjutan waralaba.



