Rupiah Berpotensi Tembus Rp17.500 per Dolar AS Jika Damai AS-Iran Terwujud
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan damai AS-Iran dinilai mampu menekan tensi geopolitik global dan membuka peluang penguatan rupiah ke level psikologis Rp17.500 per dolar AS.
- Sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah membutuhkan kombinasi faktor pendukung, seperti penurunan harga minyak dan aliran modal asing yang deras.
- Meski ada optimisme, para analis memperkirakan rupiah pekan ini masih akan bergerak di rentang Rp17.550โRp17.850 per dolar AS.

Potensi penguatan rupiah ke level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencuat di tengah harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran dalam waktu dekat. Para ekonom menilai bahwa penurunan ketegangan geopolitik dapat menjadi katalis positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ekonom PT Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, mengungkapkan bahwa jika kesepakatan damai benar-benar terwujud, rupiah berpotensi menguat signifikan. "Penurunan tensi geopolitik setelah kesepakatan damai akan menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan negara berkembang, dan ini menjadi angin segar bagi rupiah," ujarnya. Myrdal menambahkan bahwa level resistance rupiah saat ini berada di Rp17.426 per dolar AS, sehingga target Rp17.500 bukanlah hal yang mustahil.
Namun, penguatan tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Myrdal menekankan perlunya dukungan dari faktor lain, seperti penurunan harga minyak global di bawah US$80 per barel, fundamental perusahaan yang menarik, dan masuknya arus modal asing. "Penguatan rupiah juga perlu didukung oleh penurunan harga minyak yang membuat arus imbal hasil asing semakin deras," jelasnya.
Senada dengan Myrdal, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kesepakatan damai AS-Iran dapat menjadi katalis positif, tetapi penguatan ke level Rp17.500 bersifat sementara. "Untuk bertahan di level tersebut, dibutuhkan kombinasi yang cukup kuat, seperti penandatanganan kesepakatan yang lancar, harga minyak turun lebih jauh, dolar AS melemah, dan arus modal asing yang berkelanjutan," kata Josua. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.550โRp17.850 per dolar AS pekan ini.
Sementara itu, Ekonom BCA David Sumual lebih konservatif. Ia memprediksi rupiah belum akan menyentuh level Rp17.500 dalam pekan ini, meskipun ada sentimen positif dari kesepakatan damai. "Kesepakatan ini menjadi sinyal positif bagi pasar global, tetapi rupiah masih membutuhkan katalis tambahan, seperti keputusan The Fed yang kurang hawkish dan stabilitas geopolitik yang lebih meyakinkan," ujar David. Ia memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp17.700โRp17.800 per dolar AS.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, pergerakan rupiah ini menjadi perhatian utama. Penguatan rupiah dapat menekan biaya impor dan meredakan tekanan inflasi, namun juga berpotensi mengurangi daya saing ekspor. Keputusan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar akan menjadi faktor kunci di tengah dinamika global yang masih belum menentu.
Ke depan, realisasi kesepakatan damai AS-Iran akan menjadi penentu utama. Jika berhasil, rupiah berpeluang menguat, namun tanpa dukungan fundamental yang solid, level Rp17.500 mungkin hanya akan menjadi kenangan sesaat. Pertanyaannya, akankah kombinasi faktor yang diperlukan benar-benar terpenuhi?



