Gelombang Ekspor China Mengguncang Eropa: Ancaman Baru bagi Industri Manufaktur Global
Baca dalam 60 detik
- China mencatat surplus perdagangan global sebesar $1,2 triliun pada 2025, mengalihkan ekspor dari AS ke Eropa dan Asia.
- Para pemimpin G7 dijadwalkan membahas langkah bersama untuk menghadapi lonjakan ekspor China yang mengancam industri Eropa, terutama Jerman.
- Kebijakan domestik China yang mendorong kelebihan produksi dan konsumsi rendah berpotensi memicu perang dagang baru dengan Uni Eropa.

Lonjakan ekspor China yang mencapai rekor surplus perdagangan global sebesar $1,2 triliun tahun lalu kini mengancam industri Eropa, memicu kekhawatiran di kalangan pemimpin negara maju yang akan bertemu dalam KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, pekan ini. Fenomena yang dijuluki "China Shock 2.0" ini berbeda dari gelombang pertama dua dekade lalu, karena China kini mendominasi perdagangan dunia dengan pangsa 16% ekspor barang global, naik dari hanya 4% pada tahun 2000.
Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya memperingatkan bahwa ekspor China "secara harfiah membunuh sebagian besar industri Eropa" dan mengakui bahwa Eropa lambat menyadari ancaman ini. Kini, para pemimpin G7 berupaya merumuskan strategi bersama, termasuk kemungkinan membangun tembok tarif yang lebih tinggi terhadap produk China. Saat ini, Uni Eropa memberlakukan tarif relatif rendah berdasarkan aturan WTO, meskipun untuk produk tertentu seperti kendaraan listrik (EV) tarifnya mencapai 35%.
Ekonom Maurice Obstfeld dari Peterson Institute for International Economics memperingatkan bahwa lonjakan ekspor China, jika tidak dikendalikan, akan memicu gelombang proteksionisme global. "Apalagi jika gangguan akibat perang Iran berlanjut dan menyebabkan perlambatan ekonomi yang lebih tajam," ujarnya. Sementara itu, ekonom Taylor Wang dari HSBC mencatat bahwa sengketa dagang China-EU dapat mengancam ekspor China, mengingat Eropa menyerap sebagian besar ekspor EV, panel surya, dan baterai lithium-ion China.
Jerman menjadi negara yang paling terpukul. Dulu perusahaan Jerman makmur berkat ekspor ke China, kini situasi berbalik: China menjual lebih banyak barang ke Jerman daripada yang dibelinya. Industri mesin, peralatan konstruksi, mobil, dan kimiaโsektor andalan Jermanโkini harus bersaing ketat dengan produk China. Akibatnya, ekonomi Jerman stagnan, menyusut pada 2023 dan 2024, serta hanya tumbuh 0,2% tahun lalu.
Berbeda dengan Eropa, Amerika Serikat relatif lebih terlindungi berkat tarif tinggi yang diterapkan sejak era Trump. Ekspor China ke AS turun 37% pada Januari-April 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, China tetap diuntungkan oleh permintaan global yang tinggi terhadap EV murah dan komponen untuk pusat data AI.
Para ekonom menilai kebijakan domestik China menjadi akar masalah. Bank-bank milik negara memberikan suku bunga rendah kepada penabung namun menawarkan pinjaman murah kepada produsen milik negara. Jaring pengaman sosial yang lemah memaksa keluarga China menabung, bukan membelanjakan uangnya. "Hasilnya adalah kelebihan pasokan produk manufaktur di dalam negeri yang harus diekspor," jelas Obstfeld. Praktik ini diperparah dengan persaingan bisnis yang brutal di dalam negeri, yang oleh ekonom David Autor dan Gordon Hanson disebut sebagai "predator puncak" yang sulit dikalahkan.
Bagi Indonesia, fenomena ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, perang dagang AS-China dan potensi konflik serupa antara China dan Eropa dapat membuka peluang bagi ekspor Indonesia ke pasar-pasar tersebut. Namun, di sisi lain, banjir produk China yang murah juga bisa mengancam industri dalam negeri, terutama sektor manufaktur yang belum siap bersaing. Pemerintah Indonesia perlu waspada terhadap potensi dumping produk China dan memperkuat kebijakan antidumping.
Mantan negosiator dagang AS Wendy Cutler menegaskan bahwa Beijing selama ini mengandalkan negara lain untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitasnya. "Namun, situasi yang tidak berkelanjutan ini mungkin akan segera berubah jika UE dan negara lain mengambil langkah untuk menghentikan impor China, mengikuti jejak AS," ujarnya. Pertanyaan besarnya, akankah Eropa benar-benar berani menaikkan tarif secara signifikan, atau justru terpecah oleh kepentingan internal?



