Gempa M 6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Baca dalam 60 detik
- Gempa tektonik dangkal magnitudo 6,7 melanda daratan 42 km tenggara Palu pada kedalaman 10 km, Selasa pagi.
- Guncangan dirasakan hingga skala VI-VII MMI di Palu, disertai laporan kerusakan awal, namun tidak memicu tsunami.
- BMKG mengaitkan gempa dengan aktivitas sesar aktif dan mekanisme normal fault, mengingatkan warga waspada gempa susulan.

Gempa bumi dangkal berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Kota Palu dan sekitarnya pada Selasa (16/6) pukul 10.27 WIB, memicu kepanikan warga namun tidak berpotensi tsunami, demikian hasil pemodelan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
BMKG dalam keterangan resmi menyebutkan episenter gempa berada di darat pada koordinat 1,03ยฐ Lintang Selatan dan 120,24ยฐ Bujur Timur, tepatnya 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah, dengan kedalaman hanya 10 kilometer. Parameter gempa ini telah diperbarui setelah analisis lebih lanjut.
Menurut BMKG, gempa ini tergolong gempa tektonik dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di daratan Sulawesi. Analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault, yang umum terjadi pada zona ekstensi kerak bumi.
Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah. Berdasarkan peta tingkat guncangan (shakemap) dan observasi instrumentasi, intensitas gempa mencapai skala VI-VII MMI di Palu, yang berarti getaran dirasakan oleh semua orang dan dapat menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan. Di Kabupaten Sigi, intensitas tercatat V-VI MMI, sementara di Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan Pasang Kayu mencapai III MMI. Wilayah Pinrang, Pare-Pare, Pohuwatu, Boalemo, Gorontalo Utara, Gorontalo, dan Luwu Utara merasakan getaran skala II-III MMI.
BMKG mengonfirmasi bahwa hingga saat ini sudah ada laporan dampak kerusakan akibat gempa tersebut, meskipun belum dirinci lebih lanjut. Namun, hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami, mengingat episenter berada di darat dan mekanisme sesar turun tidak mendorong perpindahan massa air laut secara signifikan.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya Palu yang masih trauma dengan gempa dan tsunami dahsyat tahun 2018. BMKG mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab, serta waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang umum terjadi pasca gempa utama.
Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa siap infrastruktur dan sistem peringatan dini di kawasan rawan gempa seperti Palu dalam menghadapi skenario gempa besar berikutnya? Mengingat aktivitas seismik di Sulawesi yang terus berlangsung, upaya mitigasi dan edukasi kebencanaan menjadi semakin krusial.



