Persija Ganti Pelatih di Tengah Target Juara HUT Jakarta ke-500: Ferry Ungkap Tiga Kelemahan Souza
Baca dalam 60 detik
- Persija Jakarta menunjuk Shin Tae-yong sebagai pelatih baru menggantikan Mauricio Souza yang hanya bertahan semusim, mengejutkan banyak pihak termasuk mantan ketua The Jakmania.
- Bung Ferry menilai Souza memiliki tiga kelemahan utama: komunikasi berbahasa Portugis, emosi yang mudah terbakar, dan keluhan soal lapangan JIS yang dinilai tidak adaptif.
- Kedatangan STY dinilai belum tentu menyelesaikan masalah komunikasi dan emosi, namun publik menantikan skenario besar manajemen untuk menutupi kekurangan musim lalu.

Persija Jakarta mengambil langkah berani di tengah persiapan menuju musim 2026/2027 dengan mengganti Mauricio Souza oleh Shin Tae-yong, hanya beberapa bulan setelah pelatih asal Brasil itu membawa tim finis di posisi ketiga BRI Super League. Keputusan ini memicu tanda tanya besar, terutama karena performa Macan Kemayoran di bawah Souza dinilai lebih baik dibanding era sebelumnya.
Manajemen Persija tampaknya tidak hanya mengejar perbaikan klasemen, tetapi juga memiliki target ambisius: mempersembahkan gelar juara pada perayaan 500 tahun Jakarta pada 22 Juni 2027. Langkah mengganti Souza yang baru semusim menangani tim dianggap sebagai bagian dari rencana besar tersebut, meskipun banyak pihak, termasuk mantan Ketua Umum The Jakmania Tauhid Indrasjarief atau Bung Ferry, mengaku kaget.
Dalam diskusi di kanal YouTube "Gue Anak Jakarta", Ferry mengungkapkan bahwa ia sempat mendapat informasi kontrak Souza akan diperpanjang, apalagi Persija sudah memperpanjang kontrak beberapa pemain pilihan pelatih asal Brasil itu seperti Van Basty Sousa dan Fabio Calonego. "Tiba-tiba muncul kabar Souza tidak diperpanjang. Jujur saya kaget dan itu di luar ekspektasi saya," ujarnya.
Ferry mengidentifikasi tiga kelemahan utama Souza yang perlu dievaluasi. Pertama, masalah komunikasi karena Souza tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya menggunakan bahasa Portugis. Namun, Ferry menilai kelemahan ini tidak otomatis teratasi dengan kedatangan Shin Tae-yong yang juga tidak fasih berbahasa Inggris. "Berarti persoalannya masih sama, yaitu komunikasi," katanya.
Kedua, aspek emosi. Menurut Ferry, Souza mudah terbawa emosi yang kemudian menular ke pemain. Shin Tae-yong pun dikenal memiliki temperamen tinggi. "Dua hal ini menurut gua mirip," lanjutnya. Ketiga, keluhan Souza terhadap kondisi lapangan Jakarta International Stadium (JIS) yang kerap dijadikan alasan saat hasil kurang memuaskan. Ferry mempertanyakan apakah strategi Souza memang tidak cocok dengan lapangan JIS, padahal lawan juga bermain di tempat yang sama.
Ferry menyayangkan tidak sempat berdiskusi langsung dengan Souza mengenai rencana adaptasi taktiknya. Ia menilai citra JIS sebagai lapangan bermasalah sudah terlanjur kuat, sehingga kerap menjadi kambing hitam. "Kalau memang strateginya tidak cocok dengan kondisi lapangan seperti itu, apakah strateginya akan berubah atau tidak? Itu yang ingin saya tahu," ucapnya.
Di sisi lain, Ferry mengakui permainan Persija di bawah Souza mendapat apresiasi karena berani bermain terbuka, baik saat unggul maupun tertinggal. Banyak pihak berharap identitas permainan ini terus dikembangkan. Namun, ia mengingatkan bahwa jika ingin mencari pelatih dengan gaya berbeda, manajemen harus menyesuaikan dengan karakter pemain yang ada. "Jadi, kalau mau menentukan kriteria pelatih, lihat dulu karakter pemain yang dimiliki Persija. Lalu cari pelatih dengan strategi yang berbeda dari Souza," imbuhnya.
Publik kini menanti apakah skenario besar yang dijanjikan manajemen benar-benar mampu menutupi kelemahan musim lalu dan membawa Persija kembali ke puncak. Akankah Shin Tae-yong menjadi jawaban atau justru menghadirkan masalah baru?



