Eric Trump Bantah Tuduhan Pengaturan Pertarungan UFC di Gedung Putih: Itu Rekayasa AI
Baca dalam 60 detik
- Eric Trump, putra Presiden AS Donald Trump, menyatakan tangkapan layar percakapan dengan komentator UFC Daniel Cormier adalah palsu dan dihasilkan oleh kecerdasan buatan.
- Cormier sempat mengunggah dan kemudian menghapus unggahan yang menunjukkan akun mengaku sebagai Eric Trump menanyakan kemungkinan pertarungan 'dicurangi' di acara UFC Gedung Putih.
- Insiden ini muncul menjelang acara UFC Freedom 250 yang digelar di halaman Gedung Putih pada hari ulang tahun ke-80 Presiden Trump.

Putra Presiden Amerika Serikat, Eric Trump, dengan tegas membantah klaim bahwa ia pernah bertanya kepada komentator UFC Daniel Cormier mengenai kemungkinan pertarungan yang diatur dalam sebuah acara di Gedung Putih. Ia menyebut tangkapan layar yang beredar luas di media sosial sebagai hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI) yang menyesatkan.
Kontroversi ini bermula ketika Cormier, mantan juara kelas berat ringan dan kelas berat UFC, mengunggah sebuah tangkapan layar di platform X (sebelumnya Twitter) yang kini telah dihapus. Dalam unggahan tersebut, sebuah akun yang mengaku sebagai Eric Trump menanyakan apakah ada petarung yang cedera dan apakah pertarungan akan "dicurangi". Cormier menyertakan komentar, "Saya mungkin akan mendapat banyak kritik karena mengungkap ini, tetapi saya menolak untuk diam. Malu pada siapa pun yang mencoba merusak acara indah ini."
Eric Trump, yang menjabat sebagai wakil presiden eksekutif administrasi ayahnya, segera merespons dengan pernyataan keras. "Ini benar-benar palsu! Saya tidak pernah menghubungi Daniel. Sebenarnya, ini menakutkan," tulisnya di X. Ia menambahkan bahwa tangkapan layar tersebut adalah buatan AI dan menekankan bahwa Cormier sendiri telah menghapus unggahannya, yang dianggap sebagai konfirmasi bahwa itu adalah rekayasa.
Menariknya, Cormier kemudian tampak menyangkal keaslian unggahannya sendiri dengan menulis, "Apakah orang sebodoh ini?" Eric Trump membalas dengan "terima kasih Daniel", mengindikasikan bahwa keduanya sepakat bahwa percakapan itu tidak pernah terjadi. BBC Sport telah menghubungi UFC untuk meminta komentar, namun belum ada tanggapan resmi.
Insiden ini menyoroti meningkatnya kekhawatiran tentang penyalahgunaan teknologi AI untuk memproduksi konten palsu yang meyakinkan. Di era digital, deepfake dan manipulasi gambar menjadi ancaman serius terhadap kredibilitas informasi, terutama ketika melibatkan tokoh publik. Para ahli keamanan siber telah lama memperingatkan bahwa teknologi ini dapat digunakan untuk memicu skandal atau merusak reputasi tanpa dasar fakta.
Bagi penggemar UFC di Indonesia, peristiwa ini mungkin tampak jauh, namun memiliki implikasi penting. Industri olahraga global semakin rentan terhadap hoaks yang didorong AI, yang dapat memengaruhi persepsi publik terhadap integritas kompetisi. Regulator dan platform media sosial di Indonesia perlu waspada terhadap penyebaran konten serupa yang dapat merusak kepercayaan pada olahraga dan tokoh publik.
Acara UFC Freedom 250 sendiri berlangsung sukses tanpa insiden, dengan Eric Trump hadir menyaksikan pertarungan di halaman selatan Gedung Putih. Cormier juga bertugas sebagai analis komentator sepanjang acara. Namun, pertanyaan yang tersisa adalah: bagaimana cara efektif membedakan konten asli dan palsu di tengah maraknya teknologi AI? Kejadian ini menjadi pengingat bahwa verifikasi fakta dan literasi digital menjadi semakin krusial.