Wabah Ebola, Hantavirus, dan Difteri: Ketika Ketidakpercayaan pada Layanan Kesehatan Memperburuk Krisis
Baca dalam 60 detik
- Tiga wabah penyakit berbeda—Ebola di Kongo, hantavirus di kapal pesiar AS, dan difteri di Australia—menunjukkan pola umum: ketidakpercayaan pada sistem kesehatan dan kekosongan informasi yang dimanfaatkan misinformasi.
- Di Kongo, larangan pemakaman massal memicu protes dan pembakaran tenda medis, sementara di AS, respons CDC yang lambat membuka celah bagi influencer menyebarkan klaim palsu tentang hantavirus.
- Para ahli menekankan perlunya komunikasi transparan, pelibatan tokoh lokal, dan pembangunan kepercayaan sebelum krisis sebagai kunci pengendalian wabah di masa depan.

Paruh pertama 2026 menjadi saksi tiga wabah penyakit yang menguji ketangguhan sistem kesehatan global: Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC), hantavirus yang mewabah di kapal pesiar Amerika Serikat, serta difteri yang merebak di komunitas Aborigin Australia. Meskipun masing-masing memiliki karakteristik unik, satu benang merah menyatukan ketiganya: krisis kepercayaan terhadap layanan kesehatan dan derasnya arus misinformasi yang mengisi ruang kosong komunikasi resmi.
Di DRC, ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan kembali menjadi batu sandungan. Survei sebelumnya mengungkapkan sebagian warga masih meragukan keberadaan Ebola, tidak memahami proses diagnosis, dan memiliki tingkat kepercayaan rendah terhadap petugas medis. Akibatnya, kasus-kasus baru sulit terdeteksi, pasien enggan berobat, dan intervensi kesehatan publik mandek. Puncaknya terjadi akhir Mei lalu, ketika warga membakar tenda darurat Médecins Sans Frontières yang menampung pasien suspect Ebola. Delapan belas orang yang diduga terinfeksi kabur dari fasilitas tersebut. Pemicunya adalah larangan pemakaman massal dan pengalihan pengelolaan jenazah dari keluarga ke otoritas—keputusan yang dianggap mengabaikan tradisi dan kearifan lokal.
Fenomena serupa terjadi dalam wabah hantavirus di kapal pesiar Amerika Serikat. Sejumlah pakar kesehatan masyarakat menilai CDC kurang sigap dalam memberikan informasi kepada publik. Pejabat tinggi CDC tidak muncul di acara televisi atau memberikan wawancara tentang risiko wabah di awal kejadian. Kekosongan ini segera diisi oleh para influencer dan akun media sosial yang menyebarkan misinformasi—mulai dari klaim tentang potensi pandemi, pengobatan yang belum teruji, hingga narasi palsu yang mengaitkan virus dengan vaksinasi. Situasi ini menunjukkan bahwa ketika lembaga resmi absen, spekulasi dan rumor akan mengambil alih.
Sementara itu, wabah difteri di Australia menyoroti tantangan lain: kesenjangan akses layanan kesehatan di komunitas terpencil. Eugene Penhall, seorang pria Warlpiri, mengungkapkan kekecewaan warga terhadap minimnya informasi tentang difteri—mulai dari penyebab hingga cara pencegahan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari di permukiman padat dengan standar hidup rendah. Berbeda dengan hantavirus, difteri sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Namun, keberhasilan imunisasi sangat bergantung pada komunikasi yang tepat sasaran dan pengiriman vaksin yang efektif di daerah terpencil. Otoritas kesehatan dituntut untuk membangun dan memelihara kepercayaan melalui pendekatan yang partisipatif dan kontekstual.
Pelajaran dari pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa keterbukaan informasi, konferensi pers rutin, pembaruan media sosial, dan keterlibatan langsung dengan publik merupakan pilar penting dalam membangun kepercayaan. Namun, pesan yang disampaikan harus disesuaikan dengan audiens yang berbeda—tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua. Para ahli menekankan pentingnya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan lokal, bermitra dengan organisasi masyarakat sipil, dan melibatkan tokoh-tokoh setempat. Kelompok-kelompok ini cenderung lebih dipercaya dibandingkan "orang luar" seperti lembaga internasional. Contoh sukses datang dari Sierra Leone, di mana Social Mobilisation Action Consortium berhasil menggerakkan ribuan kader masyarakat dan pemuka agama yang bekerja sama dengan 30 stasiun radio. Hasilnya, tidak ada lagi kasus Ebola di negara itu sejak wabah 2014.
Namun, membangun kepercayaan di tengah krisis bukanlah perkara mudah, terutama ketika tekanan emosional dan finansial sedang tinggi. Oleh karena itu, investasi dalam membangun hubungan dan pemahaman bersama antara petugas kesehatan, pemangku kepentingan, organisasi komunitas, dan masyarakat harus dilakukan jauh sebelum wabah melanda. Dengan begitu, kekhawatiran dapat diidentifikasi dan diatasi lebih awal, sehingga desain intervensi menjadi lebih baik, tingkat penerimaan meningkat, dan kepercayaan terhadap langkah-langkah pengendalian wabah berikutnya lebih kokoh. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah sistem kesehatan global dan nasional—termasuk Indonesia—sudah cukup antisipatif dalam membangun modal sosial ini, atau masih akan terus bereaksi ketika api sudah membesar?


