Bitcoin Terjun ke Bawah US$64 Ribu, CEO Strategy Inc. Sebut Penjualan Hanya Uji Coba Prosedural
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin anjlok ke US$63.800 setelah aksi ambil untung, dipicu penjelasan CEO Strategy Inc. bahwa penjualan 32 BTC hanyalah uji prosedural.
- Strategy Inc. justru menambah kepemilikan 1.550 BTC senilai US$181 juta, menegaskan posisinya sebagai pembeli bersih dan memperkuat sentimen institusional.
- Isyarat damai AS-Iran dan proposal keamanan kuantum Ethereum turut mempengaruhi pergerakan harga, namun pasar masih rapuh menunggu realisasi kesepakatan.

Harga Bitcoin kembali tertekan ke bawah level US$64.000 pada akhir pekan lalu, setelah aksi ambil untung massal membalikkan pemulihan yang sempat terjadi di awal pekan. Aset kripto dengan kapitalisasi terbesar itu diperdagangkan di kisaran US$63.800, turun tipis dari US$64.300 dalam 24 jam, dengan volume transaksi merosot sekitar 8% menjadi US$16 miliar.
Penurunan ini terjadi di tengah klarifikasi CEO Strategy Inc., Phong Le, yang menyebut penjualan 32 Bitcoin pada akhir Mei lalu hanyalah uji coba prosedural, bukan perubahan strategi investasi. Jumlah yang dilego itu hanya setara 0,0038% dari total kepemilikan perusahaan, yang menurut Le bertujuan memvalidasi sistem penjualan internal dan "menginokulasi pasar" dari kekhawatiran akan pelepasan aset di masa depan.
Yang menarik, di saat bersamaan Strategy Inc. justru menggelontorkan dana US$181 juta dari penjualan saham untuk membeli 1.550 Bitcoin tambahan. Langkah ini memperkuat posisi perusahaan sebagai pembeli bersih dan menegaskan bahwa aksi jual sebelumnya bersifat teknis semata. Bagi pasar, sinyal ini dinilai netral hingga sedikit bullish karena menunjukkan kedewasaan institusional dari pemegang korporat terbesar Bitcoin.
Dari sisi geopolitik, harga Bitcoin sempat merangkak naik mendekati US$64.000 setelah Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa kerangka awal kesepakatan damai AS-Iran bisa segera ditandatangani. Pasar prediksi mencatat peluang kesepakatan permanen di bulan Juni mencapai 37%, mencerminkan optimisme hati-hati. Redanya ketegangan Timur Tengah kerap menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti Bitcoin, meski probabilitas di bawah 50% menandakan rally masih rapuh dan sangat bergantung pada realisasi kesepakatan.
Dalam perkembangan lain, Nicolas Consigny dari Ethereum Foundation mengusulkan metode bernama SPHINCS- untuk melindungi akun Ethereum dari serangan komputasi kuantum di masa depan. Proposal ini memicu diskusi luas tentang keamanan preventif di industri kripto. Meskipun enkripsi 256-bit Bitcoin saat ini dianggap aman, sejumlah analis memperingatkan bahwa sebagian pasokan Bitcoin bisa rentan dalam skenario kuantum yang lebih maju. Inisiatif seperti SPHINCS- dinilai positif dalam jangka panjang karena menunjukkan keseriusan pengembang dalam mengantisipasi ancaman teknologi masa depan.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Bitcoin kali ini mengingatkan pada volatilitas yang melekat di aset kripto, terutama saat sentimen pasar dipengaruhi oleh faktor makro dan kebijakan korporasi. Dengan makin banyaknya perusahaan besar yang transparan dalam strategi kepemilikan Bitcoin, pasar domestik bisa belajar bahwa aksi jual kecil tidak selalu berarti bearish. Namun, ketergantungan pada isyarat geopolitik dan perkembangan keamanan siber tetap menjadi risiko yang perlu dicermati.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kesepakatan damai AS-Iran benar-benar terwujud dan bagaimana pasar merespons jika probabilitasnya terus meningkat. Di sisi lain, adopsi institusional yang ditunjukkan Strategy Inc. bisa menjadi fondasi bagi stabilitas harga jangka menengah, selama tidak ada kejutan negatif dari regulasi atau serangan siber berskala besar.



