Startup Jepang Ciptakan Sistem Pendeteksi Tulisan AI, Universitas RI Bisa Tiru?
Baca dalam 60 detik
- Valar Intelligence luncurkan Puddin AI, sistem yang menganalisis proses penulisan untuk membedakan karya manusia dan AI.
- Lebih dari 200 indikator digunakan, termasuk kecepatan mengetik dan jeda, untuk menilai tingkat 'kemanusiaan' sebuah teks.
- Teknologi ini berpotensi diadopsi institusi pendidikan di Indonesia yang tengah menghadapi maraknya penggunaan AI dalam tugas akademik.

Di tengah kekhawatiran global akan maraknya penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia akademik, sebuah perusahaan rintisan asal Jepang, Valar Intelligence, menghadirkan sistem yang mampu membedakan tulisan manusia dari teks buatan AI. Sistem bernama Puddin AI ini tidak sekadar memindai konten, melainkan merekam dan menganalisis proses penulisan secara menyeluruh.
Berbasis di Osaka, Valar Intelligence mengembangkan Puddin AI dengan pendekatan yang berbeda dari detektor AI konvensional. Alih-alih hanya menganalisis hasil akhir, sistem ini memantau aktivitas pengguna saat menulis di platformnya: kapan mulai mengetik, seberapa cepat, dan bagaimana urutan revisi dilakukan. Data tersebut kemudian diolah menggunakan sekitar 200 indikator, termasuk kesalahan ejaan khas manusia, jeda antar kata, serta perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu tulisan.
Menurut perusahaan, hasil deteksi dikelompokkan ke dalam tiga kategori: AI, AI-supported (dibantu AI), dan Human. Sistem ini sudah mendukung bahasa Jepang, Inggris, dan empat bahasa lainnya, sehingga dapat digunakan untuk menganalisis tugas universitas, makalah akademik, hingga dokumen perusahaan. Kyushu University telah menguji coba sistem ini di beberapa kelas, dan puluhan universitas lain dikabarkan tengah mempertimbangkan adopsinya.
Keunggulan utama sistem ini terletak pada kemampuannya mendeteksi praktik copy-paste. Ketika teks buatan AI ditempelkan, proses penulisan menjadi sangat singkatโsebuah anomali yang langsung dikenali oleh Puddin AI. Hal ini menjadi solusi bagi dosen yang kesulitan membedakan karya asli mahasiswa dengan hasil generate dari model seperti ChatGPT.
Andrew John Chapman, Associate Professor Ekonomi Energi di Kyushu University, menyambut baik inovasi ini. Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan evaluasi yang adil karena dapat memverifikasi orisinalitas tulisan. โSaya ingin mahasiswa meluangkan waktu dan menulis karya mereka sendiri,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, kehadiran teknologi ini menjadi relevan di tengah meningkatnya penggunaan AI di kalangan mahasiswa. Beberapa universitas di Tanah Air mulai menerapkan kebijakan ketat terkait penggunaan AI, namun alat deteksi yang andal masih terbatas. Puddin AI, dengan pendekatan berbasis proses, bisa menjadi alternatif yang lebih akurat dibandingkan detektor teks konvensional yang kerap gagal membedakan tulisan manusia dan AI.
Namun, tantangan tetap ada. Sistem ini mengharuskan mahasiswa menulis langsung di platform milik Valar Intelligence, yang berarti institusi harus mengintegrasikan platform tersebut ke dalam sistem pembelajaran. Selain itu, dukungan bahasa Indonesia belum disebutkan, sehingga perlu adaptasi lebih lanjut. Pertanyaan besarnya: mampukah institusi pendidikan di Indonesia mengadopsi teknologi ini, atau justru akan melahirkan perlombaan senjata baru antara pembuat AI dan detektornya?