Wamendagri Bima Arya: Generasi Muda Butuh Karakter, Bukan Sekadar Cerdas
Baca dalam 60 detik
- Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menekankan bahwa kemajuan bangsa bergantung pada karakter, bukan hanya penguasaan ilmu pengetahuan.
- Ia mengingatkan bahwa media sosial menjadi tantangan besar dalam pembentukan karakter karena penyebaran informasi tanpa verifikasi.
- Generasi muda didorong memiliki wawasan global tanpa meninggalkan akar budaya dan identitas kebangsaan, sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258510/original/049921600_1781354177-beec62b0-4203-40c9-aeba-11abedad39fa.jpg)
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa fondasi utama dalam menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia bukanlah semata penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan karakter yang kokoh. Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran akan derasnya arus informasi digital yang kerap mengaburkan nilai-nilai kebenaran.
Dalam sambutannya pada acara pengukuhan pengurus Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) di Jakarta, Sabtu (13/6/2026), Bima Arya mengingatkan bahwa peradaban besar tidak bisa bertahan hanya dengan pengetahuan. "Peradaban besar ditopang oleh pengetahuan dan dipertahankan oleh karakter. Karena itu, tugas kita hari ini adalah fokus membangun karakter dan mengusung kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu," ujarnya.
Menurut Bima, tantangan terbesar dalam pembentukan karakter saat ini adalah media sosial. Platform digital memungkinkan informasi menyebar dengan cepat, namun seringkali tanpa melalui proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, generasi muda rentan terpapar hoaks dan propaganda. Ia menekankan perlunya kemampuan berpikir kritis, etika, dan kebijaksanaan sebagai bekal menyaring informasi.
Bima juga mengingatkan bahwa pendidikan formal dan peningkatan kompetensi saja tidak cukup. "Karakter dan integritas harus berjalan beriringan dengan kecerdasan agar mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas dan bertanggung jawab," katanya. Ia mencontohkan tradisi intelektual Melayu yang melahirkan tokoh-tokoh seperti Raja Ali Haji dan Buya Hamka, yang pemikirannya tetap relevan hingga kini.
Dalam kesempatan itu, Bima mendorong generasi muda untuk memiliki wawasan global namun tetap berpijak pada akar budaya dan identitas kebangsaan. "Melayu itu kosmopolitan. Menjejak bumi Melayu, berpijak di bumi Nusantara, dan menatap dunia. Itulah para founding fathers kita. Mereka berangkat dari budaya lokal, berpikir dalam bingkai nasional, dan berkiprah di tingkat global," ujarnya.
Bagi Indonesia, pesan ini memiliki urgensi tersendiri. Di tengah persaingan global dan disruptif teknologi, generasi muda dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki moralitas yang kuat. Tanpa itu, bonus demografi 2045 yang diharapkan menjadi momentum Indonesia Emas justru bisa berubah menjadi krisis kepemimpinan dan identitas.
Bima berharap ISMI dapat menjadi ruang aktif untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya, etika, dan kebangsaan melalui edukasi dan pengembangan pemikiran. Pertanyaannya, akankah organisasi-organisasi serupa mampu mengimbangi derasnya pengaruh globalisasi dan media sosial yang kerap menggerus karakter bangsa?


