Aktivitas Gunung Soputan Meningkat, Radius Bahaya 1,5 Km Diterapkan
Baca dalam 60 detik
- Badan Geologi menaikkan status Gunung Soputan ke Level II (Waspada) dengan radius larangan aktivitas 1,5 km.
- Dominasi gempa tektonik jauh menandakan potensi erupsi meski belum ada migrasi magma signifikan.
- Masyarakat diimbau menyiapkan masker dan mewaspadai ancaman lahar jika erupsi terjadi.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan imbauan tegas kepada pendaki, wisatawan, dan warga di sekitar Gunung Soputan, Sulawesi Utara, untuk tidak mendekati kawasan tersebut dalam radius 1,5 kilometer dari puncak. Langkah ini diambil menyusul peningkatan aktivitas kegempaan yang tercatat dalam dua pekan terakhir.
Pelaksana tugas Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan resmi Sabtu (13/6) menjelaskan bahwa berdasarkan evaluasi hingga 31 Mei 2026, status Gunung Soputan masih berada di Level II (Waspada). Meski demikian, rekomendasi diperketat seiring dengan potensi ancaman bahaya yang dinamis. "Masyarakat yang bermukim atau beraktivitas di sekitar gunung disarankan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut untuk mengantisipasi hujan abu jika terjadi erupsi," ujarnya.
Data kegempaan menunjukkan dominasi gempa tektonik jauh yang mencapai 104 kejadian, sementara gempa vulkanik dangkal tercatat 11 kali dan gempa vulkanik dalam hanya satu kali. Menurut Lana, tingginya aktivitas tektonik ini perlu diwaspadai karena berpotensi memicu lontaran material, aliran lava, atau awan panas (piroklastik). Meski demikian, secara deformasi belum terlihat perubahan signifikan pada tekanan di bawah tubuh gunung, dan migrasi magma ke permukaan belum terdeteksi.
Pengamatan visual selama periode tersebut tidak mendeteksi adanya guguran lava, namun asap kawah teramati setinggi maksimal 30 meter. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun aktivitas seismik meningkat, magma masih berada di kedalaman. Namun, para ahli mengingatkan bahwa ancaman sekunder seperti lahar dapat terjadi di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di Gunung Soputan jika erupsi besar terjadi.
Bagi Indonesia, yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, peningkatan aktivitas gunung api seperti Soputan menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan. Wilayah Sulawesi Utara sendiri memiliki beberapa gunung api aktif, dan Soputan termasuk salah satu yang kerap menunjukkan fluktuasi aktivitas. Imbauan Badan Geologi ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi penduduk yang tinggal di lereng atau lembah di sekitar gunung.
Ke depan, Badan Geologi akan terus memantau perkembangan aktivitas Soputan secara real-time. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dan tidak terpancing isu yang tidak jelas sumbernya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah peningkatan gempa tektonik ini menjadi awal dari erupsi yang lebih besar, ataukah aktivitas akan kembali mereda seperti periode sebelumnya?


