Klakson sebagai Senjata Kritik: Mahasiswa dan Warga Bersatu di Jalanan Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Jabodetabek menggelar aksi di Jakarta, menggunakan bunyi klakson sebagai alat untuk mengukur dukungan publik terhadap tuntutan mereka.
- Aksi ini menyoroti kekecewaan terhadap kebijakan ekonomi dan program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
- Fenomena klakson bersahutan menjadi simbol baru protes, menunjukkan adanya kesenjangan antara klaim pemerintah dan realitas yang dirasakan masyarakat.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257754/original/091123000_1781254919-WhatsApp_Image_2026-06-12_at_15.37.48__1_.jpeg)
Suara klakson dari pengendara mobil dan motor menggema di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan Pemuda, Jakarta, Jumat (12/6/2026), saat ribuan mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Bunyi klakson yang bersahutan itu bukan sekadar kebisingan lalu lintas, melainkan sebuah respons spontan terhadap ajakan demonstran yang ingin menguji seberapa besar dukungan publik terhadap tuntutan mereka.
Aksi yang dipelopori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) ini merupakan puncak dari rangkaian protes yang telah direncanakan sejak beberapa hari sebelumnya. Mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan ajakan kepada pengendara untuk membunyikan klakson jika mereka kecewa dengan kinerja Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, beserta jajaran menteri. Poster lain bahkan menyentuh isu pajak dengan kalimat, "Klakson kalau kalian capek bayar pajak mahal."
Menurut perwakilan MBG Watch sekaligus Transparency International Indonesia, Agus Sarwono, ajakan membunyikan klakson sengaja digunakan untuk mengukur respons publik terhadap program MBG yang selama ini diklaim populer. "Kami ingin tahu seberapa besar dukungan publik. Selama ini Badan Gizi Nasional selalu mengklaim, bahkan Pak Prabowo selalu mengatakan, Makan Bergizi Gratis itu bermanfaat dan disukai banyak penerima manfaat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa bunyi klakson menjadi simbol bahwa para pengendara tidak sendiri dalam menyuarakan kekecewaan.
Ketua BEM UI, Yatalathof Maโshum Imawan, atau Athof, menegaskan bahwa aksi ini merupakan langkah terakhir setelah berbagai kritik yang disampaikan melalui data dan dialog selalu diabaikan pemerintah. "Kami memberi kesempatan dan waktu yang cukup lama. Kritik lewat data sudah disampaikan, tapi selalu diabaikan. Pemerintah lebih memilih mengelak daripada bertanggung jawab," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6/2026). Athof menyoroti ketimpangan antara angka pertumbuhan ekonomi yang dipaparkan pemerintah dengan realitas kenaikan harga beras, terbatasnya lapangan kerja, dan beban pajak yang dirasakan masyarakat.
Selain isu ekonomi, mahasiswa juga mengkritik kebijakan perpajakan bagi UMKM, tata kelola pertambangan, serta militerisme di ruang sipil dan kampus. Albani Hilmi, Ketua Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI, menambahkan bahwa mereka menuntut Presiden Prabowo untuk mengakui kesalahan. "Kita meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengakui kesalahannya dan menyadari bahwa beliau sedang salah," tegasnya.
Fenomena klakson sebagai alat protes ini menarik perhatian karena menunjukkan adanya simpati spontan dari pengendara yang melintas. Banyak dari mereka yang tidak hanya membunyikan klakson, tetapi juga mengacungkan jempol sebagai bentuk dukungan. Aksi serupa dua hari sebelumnya di depan BGN juga mendapat respons positif dari pengguna jalan, dengan beberapa pengendara bahkan berhenti sejenak untuk ikut membunyikan klakson.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah pemerintah akan merespons gelombang protes ini dengan perubahan kebijakan, atau justru menganggapnya sebagai fenomena sementara yang tidak mewakili mayoritas masyarakat. Satu hal yang pasti, bunyi klakson yang bersahutan telah menjadi simbol baru bagi kekecewaan publik yang selama ini terpendam.


