Hoaks Global Mencatut Kepala Negara: Prabowo hingga Putin Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Beredar klaim palsu bahwa Presiden Prabowo mengizinkan Israel uji coba rudal di Indonesia, yang telah dibantah tim verifikasi.
- Foto editan Prabowo bersama Donald Trump memamerkan daging babi juga menyebar, memicu polemik keagamaan.
- Video hoaks mencatut Putin menyebut Pakistan negara teroris dan fitnah pernikahan Macron menjadi tren disinformasi lintas negara.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7588958/original/019147200_1780371293-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-02T103304.534.jpg)
Klaim palsu yang mencatut nama presiden dari berbagai negara, termasuk Indonesia, kembali membanjiri media sosial. Tidak hanya menyasar kebijakan publik, hoaks ini juga merambah isu personal yang berpotensi merusak reputasi dan memicu ketegangan diplomatik. Tim verifikasi Liputan6.com mengidentifikasi setidaknya empat narasi menyesatkan yang menyeret Prabowo Subianto, Emmanuel Macron, hingga Vladimir Putin dalam sepekan terakhir.
Salah satu hoaks paling mencolok adalah unggahan yang mengklaim Presiden Prabowo memberikan izin kepada Israel untuk melakukan uji coba rudal di Indonesia. Sebuah akun Facebook pada 24 Mei 2026 menyebarkan tangkapan layar artikel palsu berjudul "Prabowo: Israel Boleh Uji Coba Rudal ke Indonesia Asalkan Tepat Sasaran". Padahal, tidak ada pernyataan resmi semacam itu. Isu ini sangat sensitif mengingat posisi Indonesia yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Bila dipercaya, hoaks ini bisa menggerus kepercayaan publik terhadap sikap luar negeri Indonesia dan memicu reaksi diplomatik yang tidak diinginkan.
Hoaks lain yang tak kalah provokatif adalah foto editan Prabowo bersama Presiden AS Donald Trump yang memperlihatkan keduanya memamerkan daging babi. Unggahan pada 27 Februari 2026 itu disertai narasi bernada sarkastik, menyentuh isu kehalalan yang sensitif bagi mayoritas Muslim Indonesia. Foto asli kemungkinan besar diambil dari momen pertemuan bilateral yang tidak berkaitan dengan babi. Manipulasi semacam ini tidak hanya mencemarkan nama baik presiden, tetapi juga berpotensi memecah belah masyarakat berdasarkan sentimen agama.
Dari luar negeri, beredar kabar bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron menikahi ayahnya sendiri yang diklaim sebagai transgender. Akun Facebook pada 28 Februari 2025 menyebarkan foto Macron bersama istrinya Brigitte Macron dengan narasi bahwa Brigitte adalah ayah Macron yang telah berganti kelamin. Klaim ini telah berulang kali dibantah oleh pihak Istana Elysee dan media Prancis. Namun, karena sifatnya yang sensasional, hoaks ini terus beredar di komunitas tertentu, mengaburkan fakta dan memperkuat stereotip negatif terhadap tokoh publik.
Di tengah ketegangan India-Pakistan, sebuah video yang diklaim memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut Pakistan sebagai "negara teroris" juga viral. Unggahan di Instagram pada 17 Mei 2025 menampilkan Putin dengan narasi yang mendukung Perdana Menteri India Narendra Modi. Namun, suara dalam video tidak sinkron dengan gerak bibir Putin, dan analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa audio tersebut hasil rekayasa. Hoaks ini berbahaya karena dapat memperkeruh hubungan bilateral Rusia-Pakistan yang selama ini relatif stabil.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hoaks bermotif politik tidak mengenal batas negara. Di Indonesia, dampaknya bisa langsung terasa karena isu seperti hubungan dengan Israel dan sensitivitas agama sangat mudah memicu reaksi emosional. Masyarakat perlu lebih kritis sebelum membagikan informasi, terutama yang melibatkan tokoh nasional. Ke depannya, literasi digital dan kolaborasi lintas platform menjadi kunci untuk menekan penyebaran disinformasi yang semakin canggih.


