Xi Kunjungi Pyongyang, Teken ‘Persahabatan Abadi’ di Tengah Kebuntuan Nuklir
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan langka ke Korea Utara, pertama sejak 2019, menegaskan kembali dukungan diplomatik dan ekonomi Beijing untuk Pyongyang.
- Kunjungan ini terjadi saat perundingan denuklirisasi dengan AS macet dan pengaruh Rusia di Semenanjung Korea meningkat akibat perang Ukraina.
- Para analis menilai China kini lebih fokus menjaga stabilitas dan ketahanan rezim Kim Jong-un daripada mendorong denuklirisasi penuh.
Presiden China Xi Jinping tiba di Pyongyang pada Senin (9/6) dalam kunjungan kenegaraan yang jarang terjadi, menandai perjalanan luar negeri pertamanya tahun ini dan sinyal kuat dukungan Beijing terhadap Korea Utara di tengah kebuntuan diplomasi nuklir dengan Amerika Serikat. Kedatangan Xi disambut langsung oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan istrinya, Ri Sol-ju, di bandara yang dihiasi spanduk persahabatan abadi antara kedua negara.
Kunjungan ini merupakan yang pertama bagi Xi ke Korea Utara sejak 2019, ketika perundingan antara Kim dan Presiden AS saat itu Donald Trump gagal mencapai kesepakatan denuklirisasi. Sejak saat itu, Pyongyang secara terbuka menyatakan diri sebagai negara nuklir yang “tidak dapat diubah” dan terus mengembangkan persenjataan misilnya. Xi datang setelah sebelumnya menjadi tuan rumah bagi Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing dalam waktu berdekatan, menunjukkan posisi China sebagai poros diplomasi global.
Bagi Indonesia, dinamika di Semenanjung Korea memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang aktif dalam forum regional seperti ASEAN dan Kerja Sama Asia Timur, Jakarta berkepentingan terhadap stabilitas kawasan. Penguatan aliansi Beijing-Pyongyang berpotensi menggeser keseimbangan kekuatan di Asia Timur, termasuk dalam konteks sengketa Laut China Selatan dan persaingan AS-China. Selain itu, Korea Utara yang semakin terisolasi namun didukung China dan Rusia dapat mempersulit upaya multilateral untuk nonproliferasi nuklir.
Dalam artikel yang dimuat di halaman depan surat kabar resmi Partai Buruh Korea, Rodong Sinmun, Xi menulis bahwa “persahabatan tradisional antara China dan Korea Utara selalu tak terkalahkan, tidak peduli bagaimana zaman berubah atau situasi internasional berkembang.” Pernyataan ini menegaskan komitmen Beijing untuk terus mendukung Pyongyang di tengah tekanan sanksi internasional.
Minseon Ku, profesor diplomasi di DePaul University, menilai bahwa Beijing kemungkinan besar telah menerima Korea Utara sebagai negara nuklir. “Xi mungkin akan mengatakan kepada Kim bahwa China menginginkan stabilitas di atas segalanya,” ujarnya. China, menurut Ku, selalu memprioritaskan stabilitas dan saat ini harus mengelola hubungan serta perbedaannya dengan AS. Sementara itu, Seong-Hyon Lee, cendekiawan tamu di Harvard University Asia Center, berpendapat bahwa Beijing bergeser ke arah “menjamin ketahanan rezim” daripada memaksa Korea Utara melakukan denuklirisasi. “Strategi regional China yang lebih luas diuntungkan oleh negara penyangga yang stabil, bersenjata lengkap, dan sejajar yang menyerap bandwidth militer AS dan sekutunya,” katanya.
Kunjungan Xi juga dipandang sebagai upaya menandingi pengaruh Rusia yang semakin besar di Korea Utara. Kim telah mendapatkan dukungan kritis dari Moskow setelah mengirim pasukan untuk bertempur bersama tentara Rusia di Ukraina. Namun, Ku menekankan bahwa “secara keseluruhan, Moskow bukanlah kekuatan besar seperti China. Hubungan kekuasaan Moskow-Pyongyang lebih setara daripada Beijing-Pyongyang; Moskow membutuhkan Kim untuk perang mereka di Ukraina sama seperti Kim membutuhkan berbagi teknologi dan pangan dari Rusia.”
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kunjungan Xi ini akan membuka jalan bagi dimulainya kembali perundingan nuklir atau justru memperkuat posisi Pyongyang untuk menolak denuklirisasi. Dengan China yang kini lebih fokus pada stabilitas daripada pelucutan senjata, prospek denuklirisasi Korea Utara tampak semakin suram. Bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN, hal ini berarti perlunya strategi kolektif untuk menjaga perdamaian di kawasan Asia Timur yang semakin kompleks.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4732302/original/039978600_1706789607-IMG_5943.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8142912/original/079639300_1780995356-Koperasi_Merah_Putih_dibangun_di_lahan_SD.jpg)
