Telkom Siapkan Buyback Rp4 Triliun, Dividen Jumbo Rp21,9 Triliun
Baca dalam 60 detik
- RUPST Telkom menyetujui buyback saham maksimal Rp4 triliun yang akan dieksekusi dalam 12 bulan ke depan.
- Langkah ini ditempuh untuk memperkuat nilai pemegang saham dan menstabilkan harga di tengah volatilitas pasar.
- Selain buyback, perusahaan juga mengumumkan dividen tunai Rp21,9 triliun atau setara 123% laba bersih 2025.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) memutuskan untuk menggelontorkan dana hingga Rp4 triliun guna membeli kembali sahamnya di pasar. Keputusan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang baru saja digelar, sebagai bagian dari strategi menjaga kepercayaan investor dan menopang harga saham di tengah tekanan pasar.
Program pembelian kembali saham atau buyback ini akan berlangsung selama 12 bulan, terhitung sejak 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Manajemen menyebutkan bahwa aksi korporasi ini dapat dilakukan baik melalui Bursa Efek Indonesia maupun di luar bursa, secara bertahap atau sekaligus. Langkah ini lazim ditempuh emiten ketika harga saham dinilai belum mencerminkan fundamental perusahaan.
Selain buyback, Telkom juga mengumumkan pembagian dividen tunai yang tergolong jumbo. Total dividen yang akan dibagikan mencapai Rp21,9 triliun, atau setara 123% dari laba bersih tahun buku 2025. Dengan jumlah saham beredar, dividen per saham ditetapkan sebesar Rp221. Menariknya, sekitar Rp4,2 triliun dari dividen tersebut berasal dari laba ditahan tahun sebelumnya, menunjukkan komitmen perusahaan untuk memberikan imbal hasil optimal kepada pemegang saham.
Keputusan buyback dan dividen besar ini menarik diamati karena terjadi di tengah langkah perusahaan melakukan total governance reset. Salah satu dampaknya adalah percepatan depresiasi yang membuat laba bersih terkontraksi. Namun, manajemen menegaskan bahwa dampak tersebut bersifat non-kas, sehingga fundamental bisnis tetap sehat dan arus kas masih kuat. Bagi investor, sinyal ini bisa diartikan bahwa perusahaan optimistis terhadap prospek jangka panjang meskipun laba akuntansi menurun.
Bagi pasar modal Indonesia, aksi Telkom menjadi katalis positif di tengah ketidakpastian global. Emiten pelat merah dengan kapitalisasi pasar besar ini kerap menjadi barometer. Langkah buyback dan dividen tinggi diharapkan dapat menahan aksi jual dan menarik minat investor asing. Ke depan, efektivitas program ini akan tergantung pada konsistensi eksekusi dan respons pasar terhadap kebijakan dividen yang agresif.
Dengan buyback Rp4 triliun dan dividen Rp21,9 triliun, total dana yang dikembalikan ke pemegang saham mencapai hampir Rp26 triliun. Pertanyaannya, apakah langkah ini cukup untuk mempertahankan harga saham TLKM di level yang wajar, atau justru akan membebani kas perusahaan jika kondisi bisnis memburuk? Waktu yang akan menjawab.



