Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp 18.180 per Dolar AS, BI dan Pemerintah Siapkan Langkah Stabilisasi
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah anjlok 0,89% ke Rp 18.180 per dolar AS pada Senin (8/6/2026), menembus level terendah sepanjang sejarah.
- Tekanan berasal dari data tenaga kerja AS yang kuat, ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta penurunan cadangan devisa Indonesia.
- Pertemuan DPR, BI, dan Pemerintah akhir pekan lalu diharapkan menghasilkan sinergi fiskal-moneter, namun penguatan rupiah masih bergantung pada implementasi kebijakan nyata.

Rupiah kembali mencatat rekor terlemah dalam sejarah pada Senin (8/6/2026) setelah dolar Amerika Serikat menyentuh Rp 18.180 di pasar spot, melemah 0,89% dari posisi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar global (DXY) sedikit terkoreksi, menandakan tekanan struktural yang lebih dalam terhadap mata uang Garuda.
Data Refinitiv menunjukkan level tersebut merupakan titik terendah baru bagi rupiah, menggeser rekor sebelumnya yang terbentuk pada pekan lalu. Di sisi lain, DXY pagi ini turun tipis 0,07% ke 99,998, namun masih berada di atas level psikologis 100 setelah menguat 0,66% pada akhir pekan lalu. Kondisi ini membuat ruang penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah, sangat terbatas.
Dari eksternal, tekanan utama berasal dari data tenaga kerja Amerika Serikat periode Mei yang melampaui ekspektasi. Laporan tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan kembali menaikkan suku bunga acuan, menarik aliran modal keluar dari negara berkembang. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah—khususnya konflik Israel-Hizbullah dan kebuntuan negosiasi AS-Iran—meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan penurunan cadangan devisa sebesar US$ 1,3 miliar menjadi US$ 144,9 miliar pada Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta intervensi stabilisasi nilai tukar di tengah ketidakpastian global dan permintaan valas musiman. Meski demikian, posisi cadangan setara dengan 5,6 bulan impor, masih di atas standar kecukupan internasional 3 bulan.
Menanggapi tekanan berkelanjutan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menginisiasi pertemuan dengan Bank Indonesia dan pemerintah pada Sabtu (6/6/2026) di Kompleks Parlemen, Senayan. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan pertemuan itu bertujuan mengevaluasi perkembangan ekonomi dan memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. "Kami berkumpul untuk mengadakan evaluasi mengenai perkembangan ekonomi," ujarnya dalam konferensi pers.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pertemuan tersebut dapat memberikan sentimen positif jangka pendek bagi rupiah, namun dampaknya terbatas. "Pengaruhnya kemungkinan lebih bersifat menahan tekanan, bukan langsung membalikkan arah secara kuat," kata Josua. Ia menambahkan bahwa komitmen untuk menjaga daya tarik imbal hasil aset rupiah dan memastikan likuiditas perlu segera diikuti langkah nyata, bukan sekadar pernyataan bersama.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada respons kebijakan domestik serta perkembangan global, terutama data inflasi AS dan sikap The Fed. Pertanyaan yang mengemuka: apakah sinergi fiskal-moneter yang digagas DPR cukup kuat untuk menahan arus keluar modal, atau rupiah akan terus tertekan menuju level baru?



