Cadangan Devisa Nigeria Tembus 50 Miliar Dolar AS, Didorong Konflik Global dan Arus Modal Asing
Baca dalam 60 detik
- Nigeria mencatat cadangan devisa tertinggi sejak Maret 2026, mencapai 50,3 miliar dolar AS pada awal Juni, didorong oleh kenaikan harga minyak akibat perang AS-Iran.
- Investor asing membanjiri pasar modal Nigeria dengan total investasi portofolio mencapai 9,86 miliar dolar AS pada kuartal I-2026, naik 83,83% secara tahunan.
- Meskipun arus modal jangka pendek melonjak, investasi langsung asing (FDI) masih lemah, menunjukkan tantangan struktural yang perlu diatasi untuk pertumbuhan berkelanjutan.

Nigeria mencatat lonjakan cadangan devisa hingga menembus angka 50 miliar dolar AS untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun terakhir, didorong oleh memanasnya konflik global yang mengerek harga minyak dan derasnya aliran modal asing ke pasar keuangan negara tersebut.
Bank Sentral Nigeria (CBN) melaporkan bahwa cadangan devisa bruto mencapai 50,307 miliar dolar AS pada pekan pertama Juni 2026, level tertinggi sejak Maret 2026. Angka ini meningkat 4,535 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar 45,502 miliar dolar AS. Lonjakan ini terutama dipicu oleh tambahan inflow sebesar 457 juta dolar AS sejak awal Juni, melanjutkan tren kenaikan dari 49,58 miliar dolar AS pada akhir Mei.
Menurut sejumlah analis, peningkatan signifikan ini tidak terlepas dari berkah konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada Februari 2026. Perang tersebut memicu krisis energi global, dan Nigeria sebagai salah satu produsen minyak utama di Afrika berada di sisi penawaran. Harga minyak yang melambung tinggi serta peningkatan produksi minyak Nigeria sejak Februari menjadi katalis utama. Lembaga pemeringkat global pun memproyeksikan kinerja fiskal Nigeria yang kuat dalam waktu dekat.
Di sisi lain, investor asing terus membanjiri pasar modal Nigeria untuk mengoptimalkan portofolio global mereka. Data terbaru menunjukkan total investasi asing yang masuk pada kuartal I-2026 mencapai 10,37 miliar dolar AS, melonjak 83,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (5,64 miliar dolar AS) dan naik 60,70% dibandingkan kuartal sebelumnya. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak kuartal I-2019, menurut laporan Cowry Asset Management Limited.
Investasi portofolio mendominasi dengan nilai 9,86 miliar dolar AS atau 95,1% dari total inflow. Para investor asing lebih menyukai instrumen jangka pendek Nigeria, seperti surat berharga pasar uang dan obligasi, yang menawarkan imbal hasil tinggi di tengah kebijakan moneter ketat CBN. Rata-rata imbal hasil obligasi mencapai 15,78% pada kuartal I-2026, naik dari 14,99% pada kuartal sebelumnya. Sektor perbankan menjadi tujuan utama investasi dengan pangsa 72,79%, disusul sektor pembiayaan.
Namun, di balik gemerlap angka tersebut, terdapat kelemahan struktural yang mengkhawatirkan. Investasi langsung asing (FDI) hanya mencapai 135,08 juta dolar AS, jauh di bawah investasi portofolio. Demikian pula, investasi ekuitas asing hanya 131,8 juta dolar AS, meskipun indeks saham Nigeria (NGX All-Share Index) melonjak 29,35% ke level 203.791,18 poin. Hal ini menunjukkan bahwa investor masih enggan menanamkan modal jangka panjang di Nigeria karena berbagai kendala.
Negara asal investor utama meliputi Inggris, Amerika Serikat, dan Afrika Selatan, dengan bank-bank seperti Standard Chartered, Stanbic IBTC, dan Rand Merchant Bank menjadi perantara terbesar. Cowry Asset Management menekankan bahwa ketergantungan berlebihan pada arus modal jangka pendek membuat Nigeria rentan terhadap pembalikan modal mendadak. "Untuk mempertahankan momentum dan menarik investasi yang lebih stabil, pembuat kebijakan harus mengatasi hambatan investasi yang sudah lama ada," ujar analis perusahaan tersebut.
Bagi Indonesia, kondisi Nigeria ini memberikan pelajaran berharga. Lonjakan cadangan devisa akibat kenaikan harga komoditas serupa pernah dialami Indonesia saat booms harga batu bara dan minyak sawit. Namun, seperti Nigeria, Indonesia juga menghadapi tantangan dalam menarik FDI yang signifikan untuk sektor produktif. Dominasi investasi portofolio yang rentan terhadap gejolak global menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber pertumbuhan dan perbaikan iklim investasi jangka panjang.
Ke depan, Nigeria perlu fokus pada peningkatan keamanan, pengurangan birokrasi, penguatan infrastruktur, konsistensi regulasi, dan stabilitas nilai tukar untuk mengubah arus modal jangka pendek menjadi investasi produktif. Tanpa reformasi struktural yang mendalam, pertumbuhan ekonomi Nigeria berisiko hanya bersifat sementara dan tidak berkelanjutan. Pertanyaannya, mampukah pemerintah Nigeria memanfaatkan momentum ini untuk melakukan transformasi ekonomi yang sesungguhnya?



