Bursa Calon Ketum PBNU Mulai Panas: Gus Salam, Cak Imin, hingga Gus Yahya Bersaing
Baca dalam 60 detik
- Muktamar ke-35 NU pada Agustus 2026 memunculkan sejumlah kandidat ketua umum, termasuk Gus Salam, Muhaimin Iskandar, dan Yahya Cholil Staquf.
- Gus Ipul memastikan diri tidak maju dan menyebut Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai figur potensial karena pernah menjabat Katib Aam.
- Kompetisi internal NU ini berpotensi mempengaruhi peta politik nasional, mengingat kaitan erat dengan PKB dan kabinet pemerintahan.

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan pada Agustus 2026, bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat. Sejumlah nama kiai dan gus santer disebut akan bertarung memperebutkan kursi pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Informasi mengenai kandidat potensial diungkapkan oleh Abdussalam Shohib, atau Gus Salam, cucu salah satu pendiri NU, Bisri Syansuri. Dalam pernyataannya, Sabtu (6/6), ia menyebutkan lima nama yang saat ini beredar di kalangan internal: dirinya sendiri, Ketua Umum PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Zulfa Musthofa yang pernah menjadi Penjabat Ketum PBNU, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan petahana Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Gus Salam mengaku telah menjalin komunikasi dengan sejumlah figur, termasuk Cak Imin yang merupakan keponakannya, Gus Yahya, dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang telah menyatakan tidak akan mencalonkan diri. "Ya tentu lah, wong kita saudara ya. Saya berkomunikasi semuanya. Dengan Gus Yahya komunikasi, dengan Gus Ipul komunikasi. Dengan teman-teman yang ikut ikhtiar juga Gus Yusuf, Kiai Zulfa, kan komunikasi baik," ujarnya.
Selain nama-nama tersebut, spekulasi juga mengarah pada figur dari kalangan kabinet, seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menteri Haji Muhammad Irfan Yusuf (Gus Irfan). Namun, Gus Salam menilai peluang Gus Irfan tipis karena ia lebih banyak berkiprah di Partai Gerindra dan belum pernah terjun langsung di NU. "Yang masih tanda tanya ini Menteri Agama. Kalau Menteri Haji, ketika saya ketemu sih kayaknya beliau tidak berminat ke sana," katanya.
Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) secara tegas menepis kemungkinan dirinya maju. "Oh, enggak. Kalau itu enggak, enggak potongan," ujarnya sambil tertawa, Senin (3/5). Ia memilih fokus pada tugas organisasi dan menjadi Ketua OC muktamar. Meski demikian, Gus Ipul justru menilai Nasaruddin Umar sebagai kandidat potensial. Menurutnya, Nasaruddin pernah menjabat Katib Aam PBNU, posisi yang juga pernah diemban oleh Gus Yahya dan almarhum KH Said Aqil Siroj sebelum menjadi ketua umum. "Jadi semuanya sebenarnya punya potensi, tinggal berkenan apa tidak," kata Gus Ipul di Jakarta, Jumat (8/5).
Nama lain yang disebut akan maju adalah tokoh NU Muhammad Nuh, meski belum ada pernyataan resmi darinya. Kompetisi ini diprediksi akan semakin menarik karena melibatkan tokoh-tokoh yang memiliki basis massa kuat dan kaitan erat dengan politik nasional, terutama PKB yang dipimpin Cak Imin. Hasil muktamar nanti tidak hanya menentukan arah organisasi, tetapi juga bisa berdampak pada peta koalisi menjelang Pemilu 2029.
Hingga kini, lokasi pelaksanaan muktamar belum ditetapkan. Namun, rangkaian acara akan dimulai dengan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, pada 20-21 Juni 2026. Pertanyaannya, akankah persaingan ini menghasilkan pemimpin yang mampu menjaga soliditas NU di tengah dinamika politik yang kian kompleks?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8133417/original/067694300_1780985382-Solusi.jpg)