Xi Jinping Kunjungi Pyongyang: Sinyal Baru Poros Beijing-Kim Jong Un
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara pada 8-9 Juni, pertama kalinya sejak 2019.
- Kunjungan ini terjadi di tengah menguatnya aliansi Pyongyang-Moskow dan meningkatnya ketegangan dengan Seoul.
- Beijing diharapkan mendorong denuklirisasi, namun sikap China terhadap program nuklir Korut mulai melunak.

Presiden China Xi Jinping dijadwalkan mengunjungi Korea Utara pada 8-9 Juni mendatang, menandai perjalanan pertamanya ke Pyongyang dalam hampir tujuh tahun terakhir. Kunjungan ini, yang dilakukan atas undangan pemimpin Korut Kim Jong Un, menjadi sinyal kuat bahwa Beijing masih menjadi poros utama diplomasi di Semenanjung Korea di tengah perubahan peta aliansi global.
Kunjungan Xi berlangsung hanya beberapa pekan setelah ia menerima Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing. Dua negara yang sama-sama memiliki kepentingan besar terhadap kebijakan luar negeri Pyongyang. China sendiri merupakan mitra ekonomi dan politik utama Korea Utara, yang hingga kini masih berada di bawah sanksi internasional akibat program nuklir dan pelanggaran HAM yang dituduhkan padanya.
Bagi Kim Jong Un, kunjungan Xi memiliki nilai propaganda yang tak ternilai. Setahun terakhir, Pyongyang berhasil memperkuat posisinya di panggung dunia dengan bertahan dari pandemi dan memihak Rusia dalam perang Ukraina. Kim juga dengan bangga memamerkan arsenal nuklir dan misilnya, serta pembangunan infrastruktur di ibu kota yang disiapkan untuk menyambut tamu-tamu penting. Semua pencapaian itu, menurut Kim, diraih tanpa harus tunduk pada tekanan AS atau bernegosiasi dengan Seoul.
Di sisi lain, Beijing mulai waspada terhadap kedekatan Kim dengan Putin. Meski China memiliki hubungan erat dengan kedua negara, Xi dikhawatirkan kehilangan pengaruh jika aliansi Pyongyang-Moskow semakin solid. Kunjungan ini bisa menjadi upaya China untuk mengembalikan keseimbangan, sekaligus memastikan kepentingan ekonominya di kawasan tetap terjaga. Pyongyang diperkirakan akan meminta peningkatan perdagangan lintas batas dan lebih banyak turis China untuk mengisi resor pantai dan ski yang baru dibangun.
Seoul berharap Xi dapat memainkan peran mediator dalam kunjungan ini, mendorong Pyongyang untuk kembali berdialog dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat. Harapan itu muncul di tengah memburuknya hubungan antar-Korea. Sejak Desember 2024, Kim menyatakan tidak lagi mengupayakan reunifikasi dan menyebut warga Korea Selatan sebagai musuh bebuyutan. Semua jalur komunikasi dengan Seoul telah diputus. Ketika tim sepak bola wanita Korea Utara bertanding di Korea Selatan bulan lalu, ketegangan terlihat jelas: para pemain Korut bersikap dingin dan bermain agresif.
Menteri Unifikasi Korea Selatan, Chung Dong-young, menyatakan keyakinannya bahwa Xi akan membahas kemungkinan dimulainya kembali perundingan AS-Korut dengan Kim. Namun, sikap China terhadap denuklirisasi Korea Utara mulai berubah. Meski dalam pertemuan Trump-Xi bulan lalu kedua pemimpin menegaskan kembali tujuan bersama untuk denuklirisasi, juru bicara Kementerian Luar Negeri China enggan mengonfirmasi hal tersebut secara langsung. Ia hanya mengatakan posisi China "konsisten dan berkesinambungan".
Sementara itu, Pyongyang tetap teguh pada ambisi nuklirnya. Pekan ini, Kim mengklaim bahwa kapasitas produksi bahan nuklir tingkat senjata Korea Utara meningkat dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, saat ia meninjau fasilitas nuklir baru. Dengan demikian, kunjungan Xi ke Pyongyang bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan ujian bagi kemampuan China untuk menyeimbangkan kepentingan keamanan, ekonomi, dan pengaruh geopolitiknya di kawasan. Akankah Beijing mampu membawa perubahan nyata, atau justru semakin memperkuat posisi Kim di hadapan dunia?



