China Gencar Bersihkan Konten Mikro Drama: Materialisme, Kekerasan, dan Misogini Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Otoritas China meluncurkan kampanye dua bulan untuk memberantas konten vulgar, materialistis, dan kekerasan dalam mikro drama.
- Langkah ini menyasar delapan jenis konten, termasuk pornografi lunak, pandangan menyimpang tentang pernikahan, dan pamer kekayaan.
- Industri mikro drama China yang bernilai miliaran dolar kini menghadapi pengawasan ketat, berpotensi mengubah tren produksi global.

Pemerintah China melalui Administrasi Radio dan Televisi Negara (NRTA) memerintahkan pengawasan ketat terhadap konten mikro drama yang dinilai materialistis, vulgar, dan mengandung kekerasan. Kampanye dua bulan ini mewajibkan otoritas provinsi untuk memeriksa karya para pembuat mikro drama demi menciptakan industri yang "bersih dan sehat".
Langkah ini menyasar delapan jenis konten terlarang, termasuk pornografi lunak, "pandangan menyimpang tentang pernikahan dan hubungan", serta "pamer kekayaan yang berlebihan". NRTA dalam pernyataannya pekan ini menegaskan bahwa kampanye ini memiliki "arti penting bagi terciptanya ekosistem konten yang sehat" bagi industri mikro drama.
Mikro dramaโserial pendek yang dirancang khusus untuk ponselโtelah meledak popularitasnya secara global dalam beberapa tahun terakhir. Namun, format ini kerap dikritik karena kontennya yang sensasional, seperti alur cerita cepat tentang suami miliarder rahasia hingga kisah asmara terlarang, yang dirancang untuk membuat penonton terus menonton. Tak sedikit pula yang menampilkan kekerasan berlebihan atau karakter yang diseksualisasi.
Kampanye ini juga menargetkan "tema feodalistik, konten balas dendam kekerasan, judul vulgar, dan pelanggaran hak cipta". Perusahaan produksi diwajibkan segera memperbaiki setiap pelanggaran yang ditemukan. NRTA sendiri akan melakukan inspeksi independen dan menyempurnakan regulasi berdasarkan temuan di lapangan.
Bagi Indonesia, langkah China ini relevan mengingat maraknya konten serupa di platform digital Tanah Air. Mikro drama asal China banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia melalui aplikasi seperti TikTok dan YouTube. Jika China memperketat konten, produsen lokal mungkin perlu mengantisipasi perubahan pasokan konten global. Selain itu, regulator Indonesia seperti Kominfo dapat menjadikan kampanye ini sebagai referensi dalam menyusun kebijakan konten digital yang lebih ketat.
Menurut pengamat media digital, langkah China ini mencerminkan kekhawatiran pemerintah terhadap dampak sosial konten sensasional, terutama pada generasi muda. โMikro drama dengan alur cepat dan konten provokatif memang efektif menarik perhatian, tapi berisiko menormalisasi kekerasan dan materialisme,โ ujar seorang analis yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa kampanye ini bisa menjadi preseden bagi negara lain untuk mengatur konten serupa.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kampanye ini akan berhasil menekan produksi konten bermasalah tanpa membunuh kreativitas industri. Dengan nilai ekonomi yang besar, produsen mikro drama China mungkin akan beralih ke tema yang lebih aman, seperti drama keluarga atau komedi ringan. Namun, jika permintaan pasar tetap tinggi akan konten sensasional, tekanan justru bisa mendorong produksi bawah tanah yang lebih sulit diawasi.

