Rupiah Tembus Rp18.020, BI dan Pemerintah Beri Sinyal Tenang di Tengah Tekanan Global
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah di Rp18.020 per dolar AS, dipicu eskalasi geopolitik Timur Tengah dan kebutuhan dolar domestik yang tinggi.
- Bank Indonesia meningkatkan intervensi melalui instrumen NDF, DNDF, dan pembelian SBN, sementara Menteri Keuangan menyatakan pelemahan masih dalam asumsi APBN 2026.
- Pemerintah dan otoritas moneter terus berkoordinasi, namun fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat meskipun tekanan eksternal berlanjut.

Rupiah kembali mencatat rekor terlemah sepanjang masa pada perdagangan Kamis (4/6/2026) dengan ditutup di level Rp18.020 per dolar AS, melemah 0,45 persen dari hari sebelumnya. Kondisi ini memicu pernyataan dari sejumlah pejabat tinggi negara, mulai dari Bank Indonesia hingga Menteri Sekretaris Negara, yang berupaya meredam kekhawatiran pasar sambil menegaskan kesiapan instrumen kebijakan.
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari faktor eksternal, yaitu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian dan mendorong harga minyak tetap tinggi. Situasi ini memperkuat risiko inflasi global dan memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi domestik, permintaan dolar AS masih besar seiring pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri perusahaan.
Untuk menjaga stabilitas, BI mengintensifkan intervensi di pasar melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Destry menegaskan bahwa langkah ini akan dilakukan secara konsisten agar mekanisme pasar tetap berjalan dan nilai tukar sesuai fundamental.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa pelemahan rupiah telah menembus Rp18.000, namun ia menegaskan bahwa level tersebut masih berada dalam rentang asumsi makro APBN 2026. Menurutnya, dampak terhadap APBN, termasuk pembayaran kupon bunga utang dalam dolar, masih terkendali. "Kuponnya tetap, hanya dalam rupiah pembayarannya meningkat. Tapi ini masih dalam range perhitungan kami," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa pemerintah bersama Kementerian Keuangan, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intensif untuk memonitor pergerakan rupiah dan mengambil langkah yang diperlukan. Ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia โ tercermin dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang terjaga โ masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan saat ini. "Kita harus yakin fundamental kita kuat," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan.
Meski para pejabat memberikan sinyal optimisme, pelaku pasar masih mencermati risiko lanjutan. Tekanan geopolitik global belum mereda, dan permintaan dolar domestik diperkirakan tetap tinggi hingga musim repatriasi dividen berakhir. Pertanyaannya, sejauh mana intervensi BI mampu menahan laju pelemahan jika tekanan eksternal terus berlanjut? Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas rupiah.



