Rupiah Tembus 18.000 per Dolar AS, Media Singapura Soroti Risiko Intervensi BI
Baca dalam 60 detik
- Rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di 18.029 per dolar AS pada Kamis (4/6), menembus batas psikologis 18.000.
- Channel News Asia dan The Straits Times menyoroti tekanan dari harga minyak tinggi dan surplus perdagangan yang menyempit sebagai pemicu utama.
- Penembusan level kunci ini meningkatkan kekhawatiran arus keluar modal asing dan memicu spekulasi intervensi lebih agresif dari Bank Indonesia.

Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (4 Juni 2026), menembus ambang psikologis 18.000 per dolar AS dan memicu perhatian luas dari media internasional, termasuk dua outlet utama Singapura, Channel News Asia (CNA) dan The Straits Times.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip The Straits Times, nilai tukar rupiah merosot 0,35% menjadi 18.029,5 per dolar AS pada pukul 11.06 waktu Singapura. Sepanjang tahun ini, depresiasi rupiah telah melampaui 7%, menjadikannya mata uang dengan performa terburuk di Asia. Terhadap dolar Singapura, rupiah juga melemah ke rekor baru di 14.047,71, atau turun 9,3% sejak awal 2026.
Pelemahan ini tidak lepas dari tekanan eksternal akibat konflik AS-Israel yang melibatkan Iran, mendorong harga minyak global melonjak. Sebagai importir minyak bersih, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan biaya energi. Pemerintah yang berupaya mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi justru memperbesar beban fiskal. Surplus perdagangan Indonesia pun terkontraksi drastis, dari US$3,3 miliar pada Maret menjadi hanya US$89 juta pada April, mengurangi pasokan dolar di pasar domestik.
Menurut ekonom lokal Josua Pardede yang dirujuk AFP dalam laporan CNA, penyempitan surplus perdagangan secara langsung mengurangi pasokan valuta asing di pasar. Sementara itu, The Straits Times mengutip analis yang menyebutkan bahwa penembusan di bawah 18.000 dapat mempercepat arus keluar dana asing dari saham dan obligasi domestik. Level ini menjadi ujian kritis bagi Bank Indonesia yang selama ini aktif melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah.
Kekhawatiran investor terhadap aset Indonesia juga meningkat setelah MSCI memberikan peringatan potensi penurunan status pasar negara berkembang. Fitch Ratings dan Moody's Ratings telah merevisi prospek sovereign Indonesia, sementara kebijakan pemerintah yang ingin memperketat kontrol atas ekspor komoditas utama turut membebani sentimen.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut berimplikasi langsung pada harga impor, inflasi, dan daya beli masyarakat. Sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor akan merasakan tekanan biaya, sementara investor obligasi dan saham lokal dihadapkan pada risiko capital outflow yang lebih besar. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana Bank Indonesia akan mengerahkan instrumen kebijakan untuk menahan laju depresiasi, dan apakah langkah tersebut cukup efektif tanpa dukungan fundamental ekonomi yang solid.
"Penembusan di bawah 18.000 dapat mempercepat arus keluar dana asing dari saham dan obligasi lokal, menjadikan level tersebut sebagai ujian penting bagi para pembuat kebijakan yang berupaya memulihkan kepercayaan," tulis The Straits Times, mengutip analis pasar.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah-langkah koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah, dan otoritas fiskal. Apakah intervensi langsung di pasar valas akan diperkuat, atau justru ada penyesuaian kebijakan moneter yang lebih agresif? Satu hal yang pasti, tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda selama harga minyak tetap tinggi dan surplus perdagangan belum pulih.



