IHSG Babak Belur: Rp501 Triliun Lenyap dalam Satu Jam, Kapitalisasi Pasar Jeblok ke Bawah Rp10.000 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Kapitalisasi pasar BEI terkikis Rp501 triliun hanya dalam satu jam perdagangan pagi ini, membuat IHSG terperosok ke level 5.683.
- Tekanan jual meluas: 654 saham melemah, hanya 48 yang bertahan di zona hijau, menandakan aksi ambil untung besar-besaran.
- Jika tren ini berlanjut, IHSG berpotensi menguji level psikologis 5.600, mengancam kepercayaan investor domestik di tengah ketidakpastian global.

Pagi ini, Kamis (4/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan hari kelam. Dalam waktu hanya satu jam setelah perdagangan dibuka, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menguap hingga Rp501 triliun, menjatuhkan nilai total saham yang beredar menjadi Rp9.954 triliun โ ambles dari posisi penutupan kemarin yang sebesar Rp10.455 triliun.
Penyusutan nilai pasar ini kian memperlebar jarak dengan rekor kapitalisasi tertinggi sepanjang masa yang sempat diraih pada 2025, saat BEI menembus level Rp16.000 triliun. Artinya, dalam waktu kurang dari setahun, lebih dari Rp6.000 triliun nilai perusahaan tercatat telah sirna โ sebuah kontraksi yang belum pernah terjadi sedrastis ini dalam satu dekade terakhir.
Sejalan dengan amblesnya kapitalisasi, IHSG terpangkas 4,30% ke posisi 5.683,25. Padahal, indeks sempat dibuka di level 5.919,57, lalu langsung tertekan oleh gelombang aksi jual yang tak terbendung. Sepanjang sesi pagi, IHSG hanya sempat menyentuh level tertinggi 5.924,51 dan terendah 5.873,00, menunjukkan volatilitas yang ekstrem.
Tekanan jual terjadi secara merata di hampir seluruh sektor. Dari 960 saham yang diperdagangkan, hanya 48 saham yang berhasil mencatatkan penguatan, sementara 654 saham terpuruk di zona merah. Aktivitas perdagangan justru ramai โ frekuensi transaksi mencapai 606,9 ribu kali dengan volume 8,77 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp5,27 triliun โ menandakan banyak investor yang buru-buru melepas portofolionya.
Bagi investor Indonesia, kejatuhan ini mengirim sinyal alarm. Kapitalisasi pasar yang sudah berada di bawah Rp10.000 triliun membuat indeks makin rentan terhadap guncangan eksternal, seperti kebijakan suku bunga global atau perlambatan ekonomi domestik. Analis pasar menilai bahwa level 5.600 menjadi support kritis berikutnya; jika tembus, IHSG berpotensi memasuki fase bearish yang lebih dalam.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah tekanan jual ini hanya aksi ambil untung jangka pendek atau awal dari koreksi besar? Dengan data fundamental makro yang belum menunjukkan perbaikan signifikan, investor disarankan untuk mencermati pergerakan asing dan rilis data ekonomi pekan depan sebelum mengambil keputusan.



