Harga Minyakita Naik dalam Dua Pekan, Pemerintah Siapkan HET Baru
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah memutuskan menaikkan Harga Eceran Tertinggi Minyakita dalam satu hingga dua minggu ke depan, merespons lonjakan biaya produksi.
- Kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) dan tandan buah segar (TBS) menjadi pemicu utama penyesuaian yang sudah tiga tahun tidak berubah.
- Keputusan final masih menunggu stabilisasi harga bahan baku, dengan target HET baru diumumkan paling lambat pertengahan Juni 2026.
Pemerintah memastikan harga minyak goreng rakyat Minyakita akan naik dalam waktu dekat, setelah Menteri Perdagangan Budi Santoso mengumumkan kesepakatan penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) pada Kamis, 4 Juni 2026. Langkah ini diambil di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, dan keputusan final ditargetkan rampung dalam satu hingga dua minggu ke depan.
Mendag Budi Santoso menjelaskan bahwa besaran kenaikan masih dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait. Pemerintah tidak ingin terburu-buru menetapkan angka sebelum harga minyak sawit mentah (CPO) dan tandan buah segar (TBS) menunjukkan tren stabil. "Kita akan melihat harganya stabil dulu, baru ditetapkan berapa angka kenaikannya," ujarnya di Jakarta.
Sejak tiga tahun terakhir, HET Minyakita bertahan di level Rp15.700 per liter. Namun, kenaikan harga CPO dan biaya produksi lainnya telah menggerus margin produsen, memaksa pemerintah untuk merevisi batas harga eceran. Kebijakan ini diharapkan menjaga pasokan tetap terjangkau tanpa mengorbankan keberlangsungan usaha para pelaku industri.
Bagi konsumen Indonesia, kenaikan HET Minyakita berarti pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pokok akan bertambah. Minyakita selama ini menjadi pilihan utama karena harganya yang lebih murah dibanding minyak goreng kemasan premium. Dengan penyesuaian ini, pemerintah dihadapkan pada dilema: menjaga keterjangkauan di satu sisi, namun juga memastikan produsen tidak merugi.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai langkah ini sudah diperkirakan mengingat harga CPO global yang masih tinggi. "Penyesuaian HET seharusnya sudah dilakukan lebih awal. Semakin lama ditunda, semakin besar beban yang ditanggung produsen, dan bisa berujung pada kelangkaan pasokan," ujarnya. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tetap mengawasi distribusi agar kenaikan harga tidak dimanfaatkan oknum untuk menimbun.
Ke depan, publik menunggu keputusan resmi yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Pertanyaan yang mengemuka: seberapa besar kenaikan yang akan diterapkan, dan apakah pemerintah akan menyertakan skema kompensasi bagi rumah tangga berpenghasilan rendah? Semua itu akan terjawab setelah harga bahan baku menunjukkan sinyal stabil.



