Kejutan Berlanjut di Roland Garros: Sabalenka Tersingkir, Semifinal Tanpa Juara Grand Slam
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka dipulangkan Diana Shnaider pada babak perempat final Prancis Terbuka, menyusul kepergian sejumlah unggulan top lainnya.
- Untuk pertama kalinya sejak 1977, semifinal Roland Garros tidak akan menampilkan satu pun juara Grand Slam, menandai persaingan paling terbuka dalam dekade terakhir.
- Maja Chwalinska, petenis kualifikasi asal Polandia, menjadi fenomena dengan mengumpulkan hadiah lebih besar dari total kariernya hanya dalam satu turnamen.
Prancis Terbuka 2025 terus menyajikan kejutan demi kejutan. Kali ini giliran Aryna Sabalenka, petenis nomor satu dunia asal Belarusia, yang harus mengakui keunggulan Diana Shnaider dalam pertandingan perempat final yang berlangsung di Lapangan Philippe-Chatrier, Rabu (3/6) waktu setempat. Shnaider, yang sebelumnya tidak diunggulkan, membalikkan keadaan setelah tertinggal satu set dan break, dan akhirnya menang 3-6, 7-5, 6-0.
Kekalahan Sabalenka menambah panjang daftar kejutan di turnamen ini. Sebelumnya, juara bertahan Coco Gauff dan peraih empat gelar Iga Swiatek sudah lebih dulu tersingkir. Di sektor putra, petenis nomor satu dunia Jannik Sinner dan pemenang 24 Grand Slam Novak Djokovic juga gagal melaju ke babak semifinal. Akibatnya, untuk pertama kalinya sejak edisi 1977, Roland Garros tidak akan menampilkan satu pun juara Grand Slam di babak semifinal.
"Tidak ada pikiran, tidak ada emosi. Saya hanya ingin berhenti bermain tenis sekarang," ujar Sabalenka dengan nada putus asa. Ia mengakui bahwa dirinya jatuh ke dalam lubang gelap secara mental dan tidak mampu bangkit kembali. Sementara itu, Shnaider mengaku belajar dari pengalaman Sabalenka di final tahun lalu yang kalah karena angin kencang. "Saya tahu dia kesulitan melawan Coco tahun lalu. Saya berpikir, ini kesempatan saya. Saya harus memanfaatkannya," kata Shnaider.
Di semifinal, Shnaider akan berhadapan dengan Maja Chwalinska, petenis kualifikasi asal Polandia yang sukses mengalahkan Anna Kalinskaya 7-6(3), 6-3. Chwalinska, yang sebelumnya tidak pernah melampaui babak kedua Grand Slam, kini telah mengumpulkan hadiah sebesar $870.000โlebih besar dari total pendapatan sepanjang kariernya. "Saya tidak memprosesnya. Saya hanya fokus pada setiap pertandingan. Setelah turnamen selesai, saya akan punya waktu untuk bersyukur," ujar Chwalinska.
Di sektor putra, Flavio Cobolli menjadi petenis Italia pertama yang lolos ke semifinal Grand Slam sejak 2022. Ia mengalahkan unggulan keempat Felix Auger-Aliassime dengan skor 4-6, 6-4, 6-4, 6-4. Cobolli mengaku sedikit percaya takhayul selama turnamen ini, termasuk menggunakan bilik pancuran yang sama dengan Rafael Nadal. "Saya pergi ke restoran yang sama, menu yang sama, pancuran yang sama. Itu yang terbaik yang saya lakukan tahun ini," katanya. Cobolli akan bertemu rekan senegaranya, Matteo Arnaldi, yang melaju setelah Matteo Berrettini mundur karena cedera pinggul.
Bagi penggemar tenis Indonesia, absennya nama-nama besar di semifinal membuka peluang bagi petenis non-unggulan untuk bersinar. Ini juga menjadi pengingat bahwa ketangguhan mental dan adaptasi terhadap kondisi lapangan, seperti angin kencang di Paris, bisa menjadi faktor penentu. Pertanyaan besarnya: akankah salah satu dari petenis kuda hitam ini mampu mengukir sejarah di final, atau justru kembali mengecewakan?



