Booming Bambu Flores: Antara Cuan dan Ancaman Kelestarian
Baca dalam 60 detik
- Permintaan bambu asal Flores melonjak drastis, mendorong pendapatan warga desa hingga puluhan juta rupiah per orang.
- Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menjadi motor utama penyerapan bambu untuk industri furnitur ramah lingkungan, termasuk pesanan dari Pertamina dan Polandia.
- Kekhawatiran mulai muncul terkait keberlanjutan pasokan, karena pemanenan masif belum sepenuhnya diimbangi dengan penanaman kembali dan perlindungan kawasan mata air.

Di lereng pegunungan Mbeliling, Manggarai Barat, bambu bukan lagi sekadar tanaman pagar atau penahan erosi. Kini, batang-batang hijau itu menjelma menjadi sumber cuan yang menggiurkan, mampu meraup omzet hingga Rp40 juta per orang dalam beberapa bulan. Namun, di balik gemerlapnya bisnis bambu Flores, pertanyaan kritis mulai menggema: mampukah alam memasok permintaan yang terus menggelembung?
Valentinus Hendrik, Ketua Kelompok Panen Bambu Wela Nara, menjadi salah satu bukti nyata geliat ekonomi ini. Sejak Oktober 2025 hingga Maret 2026, kelompoknya telah mengirim 140 truk bambu ke pabrik pengolahan di Labuan Bajo. Dengan harga Rp8.000 hingga Rp10.000 per batang tergantung diameter, pendapatan bersih yang ia terima mencapai Rp40 juta—angka yang nyaris tak terbayangkan sebelumnya. “Satu rumpun bambu bisa menghasilkan 40 batang siap panen. Satu batang petung bisa dipotong jadi enam bagian,” jelasnya saat ditemui di desanya, Watu Galang.
Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menjadi pembeli utama bambu dari desa-desa di Flores. Bambu yang terkumpul kemudian diolah di Rumah Produksi Bersama (RPB) Mosedia menjadi papan laminasi, furnitur, hingga bahan bangunan. Achmad Hufron, Factory Manager RPB Mosedia, mengungkapkan bahwa permintaan terus meningkat, termasuk pesanan dari Pertamina untuk asrama dan dari pembeli di Polandia. “Order mulai banyak, kami kewalahan. Kami akan bangun ruang boiler untuk mempercepat pengeringan,” ujarnya. Saat ini, kapasitas produksi pabrik baru mencapai 0,3 meter kubik per hari, setara 200 batang bambu.
Monika Tanuhandaru, Chairperson YBLL, menambahkan bahwa pihaknya tengah merencanakan pembangunan pembangkit listrik biomassa dari limbah bambu untuk mendukung operasional pabrik. Saat ini, YBLL aktif di 65 desa dan membina 1.600 "mama bambu". Selama lima tahun, program pendampingan telah menjangkau 720 desa di NTT, Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan Barat, dengan rencana ekspansi ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, Maluku Utara, hingga Aceh.
Di balik optimisme itu, ancaman terhadap keberlanjutan mulai terlihat. Ferdinandus Mboli, Kepala Desa Watu Galang, mengingatkan agar bambu yang dipanen tidak berasal dari kawasan hutan atau sekitar mata air. “Kami bersyukur ada pembelian, tapi harus ada peremajaan,” katanya. Valentinus mengakui bahwa saat ini panen hanya dilakukan pada bambu berumur di atas 4 tahun dan batang yang lurus. Namun, ia juga tengah bernegosiasi dengan YBLL untuk menaikkan harga Rp2.000 per batang guna menutup biaya angkut dari kebun ke jalan raya.
Data Grand View Research memproyeksikan pasar furnitur ramah lingkungan global akan naik dari US$43,26 miliar pada 2022 menjadi US$83,76 miliar pada 2030. Sementara itu, Market.us memperkirakan pasar produk berbasis bambu akan tumbuh dari US$74 miliar (2024) menjadi US$118,3 miliar pada 2034. Peluang ini menjadi ladang emas bagi Indonesia, namun juga menjadi ujian bagi tata kelola sumber daya alam. Sejauh ini, YBLL telah menanam sekitar 5.000 bibit bambu di tujuh hektar lahan—melebihi target awal 2,5 hektar. Namun, apakah itu cukup untuk mengimbangi laju pemanenan yang terus meningkat?
Bagi Indonesia, khususnya Flores, bambu bukan hanya komoditas ekonomi. Ia juga berfungsi sebagai penahan erosi, penyimpan air, dan penjaga ekosistem mata air. Jika pemanenan tidak diimbangi dengan penanaman kembali dan perlindungan kawasan konservasi, bukan mustahil dalam beberapa tahun ke depan, para petani akan kehilangan sumber penghidupan mereka sendiri. Pertanyaannya, mampukah skema bisnis bambu ini berjalan berkelanjutan tanpa mengorbankan alam?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606030/original/060199800_1495805023-news-story-kenapa-soekarno-gemar-memakai-jas-bergaya-militer-mK8Z6h2EXP.jpg)
