IHSG Anjlok 4,1% ke Level Terendah Lima Tahun, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp 500 Triliun
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup merosot 4,11% ke 5.941,07, level terendah sejak Mei 2021, dengan 75% emiten berada di zona merah.
- Aksi jual asing mencapai Rp 525,4 miliar dalam satu sesi, dipimpin oleh BBCA dan TPIA, memperkuat tekanan di pasar modal.
- Koreksi ini menghapus hampir seluruh keuntungan pasca-pandemi, memicu kekhawatiran investor apakah indeks akan menuju level 3.937.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan koreksi tajam pada perdagangan Rabu (3/6/2026), ditutup anjlok 4,11% atau 254,36 poin ke posisi 5.941,07. Level ini merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir, menyentuh titik yang terakhir kali terlihat pada Mei 2021 saat pasar sedang dalam fase pemulihan setelah pandemi Covid-19.
Sebanyak 726 emiten atau 75% dari total tercatat berada di zona merah, sementara hanya 75 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Nilai transaksi harian mencapai Rp 24,96 triliun dengan volume 35,83 miliar saham. Kapitalisasi pasar pun terkoreksi signifikan menjadi Rp 10.455 triliun, menyusut sekitar Rp 500 triliun dari level sebelumnya.
Sektor bahan baku dan kesehatan menjadi yang paling terpukul, masing-masing turun 9,23% dan 6,37%. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks. Bank Central Asia (BBCA) menyumbang koreksi 28,1 poin, diikuti Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 21,95 poin, dan Amman Mineral Internasional (AMMN) yang menekan 17,62 poin. Telkom Indonesia (TLKM) dan Bank Mandiri (BMRI) juga ikut menekan indeks dengan koreksi masing-masing 10,44 poin dan 9,39 poin.
Tekanan jual dari investor asing semakin memperburuk situasi. Sepanjang sesi I, aksi jual bersih (net sell) asing tercatat Rp 525,4 miliar, dengan total penjualan Rp 5,7 triliun dan pembelian hanya Rp 5,2 triliun. BBCA menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan net sell Rp 263,7 miliar, disusul Chandra Asri Pacific (TPIA) sebesar Rp 244,5 miliar. BBRI dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) juga mencatat net sell masing-masing Rp 195,2 miliar dan Rp 94 miliar.
Bagi investor Indonesia, koreksi ini memiliki implikasi langsung. IHSG telah kehilangan hampir seluruh kenaikan yang terakumulasi sejak ekonomi pulih pasca-pandemi. Sebagai perbandingan, pada puncak pandemi Maret 2020, IHSG sempat menyentuh 3.937, lalu mencapai all-time high (ATH) di level 9.134 pada Januari 2026 โ sebuah kenaikan 132% dalam enam tahun. Namun kini, indeks telah terkoreksi lebih dari 35% dari ATH, menghapus keuntungan yang diperoleh selama bertahun-tahun.
Pertanyaan besar yang kini mengemuka di kalangan pelaku pasar adalah apakah IHSG sudah mencapai titik terbawah (bottom) atau masih akan melanjutkan penurunan menuju level pandemi. Dengan sentimen global yang masih tidak menentu dan tekanan jual asing yang terus berlanjut, prospek jangka pendek indeks masih suram. Para analis memperkirakan bahwa jika tidak ada katalis positif, IHSG berpotensi menguji level 5.500 dalam beberapa pekan ke depan.



