IHSG Ambles 4,11% ke Level Terendah Pandemi, Menkeu Purbaya: Jangan Takut
Baca dalam 60 detik
- IHSG anjlok 4,11% ke 5.941,07 pada Rabu (3/6/2026), level terendah sejak gelombang Delta Covid-19 pada 2021.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau investor tetap tenang, menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih solid.
- Koreksi ekstrem 34,96% dari puncak historis 9.134,70 pada Januari 2026 memicu kekhawatiran, namun pemerintah optimistis pemulihan terjadi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), ditutup merosot 4,11% ke posisi 5.941,07—level terendah dalam lebih dari lima tahun terakhir, menyamai titik terpuruk saat varian Delta Covid-19 melanda Indonesia pada 2021. Sepanjang sesi, indeks sempat menyentuh 5.842,00, memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung sejak awal tahun.
Penurunan hari ini mempertegas koreksi dalam yang dialami IHSG setelah mencapai rekor tertinggi 9.134,70 pada 20 Januari 2026. Dalam hitungan kurang dari enam bulan, indeks telah kehilangan hampir 35% nilainya, menjadikannya salah satu koreksi terdalam di bursa Asia Tenggara. Aksi jual massal oleh investor asing dan domestik disebut sebagai pemicu utama, dipicu oleh sentimen global yang tidak menentu serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi domestik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara menenangkan pasar. Dalam pernyataannya di kompleks DPR RI, ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan penurunan IHSG bersifat sementara. "Jangan takut, fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin hanya short-term panic selling," ujarnya, menekankan bahwa kondisi fiskal dan konsumsi masyarakat masih menopang pertumbuhan.
Purbaya menyebutkan bahwa indikator makro seperti penerimaan pajak dan perputaran ekonomi masih menunjukkan kinerja positif. Ia juga merujuk pada aktivitas di Jakarta yang tetap ramai selama liburan sebagai bukti daya beli masyarakat yang terjaga. "Saya jalan-jalan di Jakarta, ramai. Daya beli masih cukup kuat, itu akan mendorong pertemuan ekonomi. Jadi nggak usah takut kita akan jeblok," ungkapnya.
Namun, para analis pasar mengingatkan bahwa koreksi sebesar ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Sentimen negatif global—termasuk kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik—masih membayangi pasar negara berkembang. Bagi investor Indonesia, situasi ini menuntut strategi yang lebih hati-hati, terutama dalam memilih saham-saham dengan fundamental kokoh.
Pemerintah optimistis IHSG akan kembali menguat seiring membaiknya kepercayaan pasar. "Saya yakin akan naik lagi karena fondasi ekonomi bagus," tutup Purbaya. Pertanyaan besarnya kini: seberapa cepat pemulihan itu terjadi, dan apakah tekanan jual masih akan berlanjut dalam pekan-pekan mendatang?



