Kostyuk Menangis, Persembahkan Kemenangan Bersejarah untuk Ukraina di Roland Garros
Baca dalam 60 detik
- Marta Kostyuk menjadi petenis putri Ukraina pertama di era Open yang lolos ke semifinal Prancis Terbuka, setelah mengalahkan rekan senegaranya Elina Svitolina.
- Kemenangan itu dipersembahkan untuk Ukraina yang kembali diguncang serangan rudal dan drone Rusia, menewaskan sedikitnya 18 orang sehari sebelumnya.
- Kostyuk akan menghadapi Mirra Andreeva asal Rusia di semifinal, dengan rekor 17 kemenangan beruntun di lapangan tanah liat musim ini.

Marta Kostyuk, petenis Ukraina berusia 23 tahun, mempersembahkan kemenangan bersejarahnya di perempat final Prancis Terbuka untuk negaranya yang tengah dilanda perang. Dengan mata berkaca-kaca, ia menundukkan rekan senegaranya Elina Svitolina 6-3, 2-6, 6-2 di Court Philippe Chatrier, Selasa (4/6), sehari setelah serangan rudal dan drone Rusia menewaskan sedikitnya 18 orang di Ukraina.
Kostyuk menjadi petenis putri Ukraina pertama di era Open yang mencapai semifinal tunggal Roland Garros. Ia bergabung dengan Svitolina dan Dayana Yastremska sebagai satu-satunya petenis Ukraina yang pernah menembus empat besar di turnamen Grand Slam. Prestasi ini diraih di tengah kekhawatiran terus-menerus akan keselamatan keluarga dan teman-temannya sejak invasi Rusia pada Februari 2022.
โKami mengalami malam yang berat di Ukraina, terutama di Kyiv, banyak orang meninggal. Saya persembahkan pertandingan ini untuk Ukraina,โ ujar Kostyuk dalam wawancara di lapangan, yang disambut tepuk tangan panjang penonton. Mantan juara Wimbledon Marion Bartoli bahkan memeluknya untuk menenangkan.
Kostyuk juga memuji Svitolina yang telah menjadi inspirasi. โSaya ingin menyoroti dampak luar biasa Elina terhadap tenis, orang Ukraina, dan saya pribadi. Dia luar biasa,โ katanya. Svitolina, 31 tahun, mengaku sedih karena harus hidup dengan beban dan rasa sakit setiap hari, tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga dan teman-teman di Ukraina.
Pertandingan ini adalah perempat final Grand Slam pertama yang mempertemukan dua petenis putri Ukraina. Kostyuk sebelumnya kerap mengkritik petenis Rusia yang tidak menyuarakan penolakan terhadap perang. Ia juga menerapkan kebijakan tidak berjabat tangan dengan lawan dari Rusia dan Belarus. โMereka semua sudah dewasa, sadar apa yang terjadi. Jika mereka ingin menghindari pembicaraan, mereka harus hidup dengan itu, bukan saya,โ tegasnya.
Di semifinal, Kostyuk akan berhadapan dengan Mirra Andreeva, petenis Rusia berusia 17 tahun. Andreeva, yang juga menjadi sorotan, mengatakan tidak peduli siapa lawannya dan hanya fokus pada permainan. Bagi Kostyuk, laga ini bukan sekadar pertandingan tenis, melainkan juga simbol perlawanan dan harapan bagi Ukraina. โSaya masih merasa gelar juara masih jauh. Saya punya dua pertandingan lagi,โ ujarnya sambil melambai kepada penggemar yang mengibarkan bendera Ukraina.
Kostyuk memasuki semifinal dengan modal 17 kemenangan beruntun di lapangan tanah liat musim ini, rekor terpanjang sejak Iga Swiatek meraih 18 kemenangan pada 2022. Ia juga berjanji akan melakukan backflip jika berhasil memenangkan final, seperti yang ia lakukan setelah menjuarai Madrid Open bulan lalu. Pertanyaannya, mampukah Kostyuk mengatasi tekanan perang dan lawan tangguh untuk membawa pulang gelar Grand Slam pertama bagi Ukraina?



