Mark McCall Pamit dari Saracens: Skandal Gaji Justru Jadi Momen Paling Membanggakan
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Saracens, Mark McCall, pensiun setelah 17 musim dengan menyebut skandal pelanggaran gaji 2020 sebagai pencapaian terbesarnya.
- Saat terdegradasi ke Championship, para bintang seperti Itoje dan Farrell memilih bertahan, menunjukkan loyalitas yang langka di era modern.
- Pertandingan penentu melawan Exeter pada akhir pekan ini akan menentukan apakah McCall bisa mengakhiri kariernya dengan gelar ketujuh.

Mark McCall, pelatih kepala Saracens yang akan mengakhiri masa baktinya setelah 17 musim, justru menunjuk skandal pelanggaran batas gaji yang menjatuhkan timnya ke divisi dua sebagai momen paling membanggakan sepanjang kariernya. Bukan enam gelar Premiership atau tiga Piala Champions Eropa yang ia sebut, melainkan bagaimana skuadnya tetap solid saat diterpa badai terberat.
Pada 2020, Saracens dihukum degradasi dari Premiership dan denda lebih dari £5 juta akibat pengulangan pelanggaran aturan gaji. Banyak pihak memperkirakan para pemain bintang akan hengkang, apalagi tur British and Irish Lions sudah di depan mata. Namun, Maro Itoje, Jamie George, Owen Farrell, Elliot Daly, serta Mako dan Billy Vunipola memilih bertahan dan menjalani satu musim di Championship. "Semua orang ingin membantu kami bangkit kembali... dan itu memungkinkan kami menjadi stabil lagi," ujar McCall kepada Rugby Union Weekly.
Keputusan itu, menurut McCall, menjadi ujian sejati bagi kohesi tim. "Anda pikir Anda bagian dari sesuatu yang lumayan, tapi Anda tidak tahu sampai benar-benar diuji," katanya. Ia mengenang laga tandang melawan Gloucester pada 9 November 2019, empat hari setelah hukuman dijatuhkan. Tanpa sejumlah pemain Inggris yang diistirahatkan usai final Piala Dunia, skuad pelapis Saracens diejek suporter tuan rumah dengan uang kertas palsu dan nyanyian "same old Sarries, always cheating". Meski demikian, Saracens tetap menang. "Itu berat dan kemenangan itu akan selalu saya ingat," kenang McCall.
Kini, di akhir pekan terakhir musim reguler, Saracens menghadapi Exeter di Sandy Park dalam laga hidup-mati. Exeter, yang dianggap sebagai pihak paling dirugikan oleh kecurangan Saracens, menjadi lawan yang paling vokal mengkritik. Kemenangan akan membawa Exeter ke semifinal, sementara kemenangan bonus point memastikan tiket bagi Saracens. "Saya sangat menghormati Exeter, terutama apa yang mereka lakukan tahun ini. Mereka bangkit dari musim sulit dan Anda hanya bisa memberi tepuk tangan," kata McCall.
McCall menegaskan bahwa motivasi timnya saat ini lebih bersifat internal. "Kami menikmati beberapa bulan terakhir dan saya pikir masih ada level lain yang bisa kami capai," ujarnya. Saracens datang dengan lima kemenangan beruntun, diperkuat pemain muda seperti Charlie Bracken, Olly Hartley, Tobias Elliot, dan Noah Caluori. Musim panas nanti, Tomos Williams, George Martin, dan Alfie Barbeary akan bergabung.
Meski demikian, McCall menolak godaan untuk bertahan menyaksikan era keemasan kedua. "Pekerjaan ini membutuhkan energi tertentu, dan saya sadar energi saya sudah tidak seperti yang dibutuhkan tim. Tim membutuhkan energi baru dari Brendan Venter," jelasnya. Ia berpamitan dengan StoneX Stadium pekan lalu setelah kemenangan atas Harlequins, mendapat guard of honour dan perpisahan hangat.
Warisan McCall tak hanya trofi. Ia telah melahirkan sejumlah pelatih top seperti Paul Gustard (Stade Francais), Alex Sanderson (Sale), dan Steve Borthwick (timnas Inggris). Menjelang pensiun, ia menyoroti perlunya dukungan lebih bagi pelatih muda. "Pekerjaan ini bisa menimbulkan keraguan diri dan ketidakpastian. Kekalahan kadang sulit ditanggung. Saya sudah belajar menghadapinya, tapi pelatih muda butuh lebih banyak dukungan," tutupnya.
Jika McCall mampu membawa Saracens meraih gelar ketujuh musim ini, itu akan menjadi kemenangan termanis—sekaligus penutup sempurna bagi karier yang diwarnai kontroversi sekaligus loyalitas.



