Komentar Diskriminatif Berujung Sanksi: Anggota Dewan RFU Kehilangan Hak Istimewa
Baca dalam 60 detik
- Matthew Smith, perwakilan Warwickshire di Dewan RFU, dijatuhi sanksi tujuh bulan tanpa tiket pertandingan dan tunjangan setelah melontarkan komentar seksis di Facebook tentang analis rugby Maggie Alphonsi.
- Panel disiplin menilai Smith melanggar kode etik yang melarang diskriminasi, namun Alphonsi kecewa karena sanksi dianggap terlalu ringan dan tidak mencerminkan komitmen memberantas misogini dalam olahraga.
- Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang reformasi tata kelola RFU, di mana dewan yang dikenal konservatif tengah dipangkas wewenangnya menjadi hanya bersifat advisori.

Seorang anggota Dewan Rugby Football Union (RFU) harus merelakan hak istimewanya selama tujuh bulan—termasuk tiket pertandingan timnas Inggris, konsumsi gratis, dan penggantian biaya perjalanan—setelah terbukti melontarkan komentar diskriminatif terhadap analis televisi Maggie Alphonsi. Sanksi ini dijatuhkan oleh panel disiplin yang menilai Matthew Smith, perwakilan Warwickshire, telah melanggar kode etik organisasi.
Insiden bermula pada Maret lalu, saat Smith menulis di Facebook: "Adakah yang bisa menjelaskan apa yang Maggie Alphonsi ketahui tentang rugby pria?" Unggahan tersebut muncul saat siaran pertandingan Prancis melawan Inggris yang berakhir dengan skor 48-46. Foto profil Smith saat itu memperlihatkan dirinya mengenakan kaus bertanda Inggris. Panel disiplin yang terdiri dari tiga orang memutuskan bahwa komentar itu melanggar prinsip "toleransi nol" terhadap diskriminasi dan pelecehan, serta dilarang keras dalam aturan dewan karena dapat merusak reputasi olahraga dan RFU.
Alphonsi, yang pernah memperkuat Inggris sebanyak 74 kali dan menjadi bagian dari tim juara Piala Dunia Rugby Wanita 2014, menyatakan kekecewaannya terhadap hukuman yang dijatuhkan. Menurutnya, sanksi tersebut tidak cukup berat. "Dia kini tidak boleh masuk ke Allianz Stadium dan menikmati hak istimewanya, tetapi masih bisa aktif sebagai anggota dewan," ujarnya. Alphonsi juga mengkhawatirkan dampak lanjutan: "Saya harus membela diri di depan publik, yang kemungkinan akan memicu lebih banyak misogini dan seksisme dari orang-orang yang berpikiran sama. Insiden ini juga memaksa saya mengungkit kembali masa lalu, yang tentu menambah frustrasi dan tekanan."
Smith telah menghapus unggahannya, menerima tuduhan, dan mengirim surat permintaan maaf kepada Alphonsi. Ia mengaku tidak segera menghubungi Alphonsi karena mengira proses hukum bersifat rahasia. "Saya jamin tidak ada niat menyinggung. Sayangnya, saya membuat penilaian yang keliru karena tekanan dan kecemasan pribadi," tulis Smith dalam suratnya. BBC Sport telah menghubungi Warwickshire RFU untuk meminta tanggapan terkait peran Smith sebagai perwakilan mereka.
Alphonsi bukan kali pertama menghadapi perlakuan seksis. Pada 2021, ia pernah menulis bahwa pencapaiannya jauh melampaui "apa pun yang diraih oleh individu-individu seksis itu" setelah menjadi sasaran perundungan daring saat meliput pertandingan Six Nations. Karier media Alphonsi dimulai setelah pensiun pada 2014, ketika ia menjadi mantan pemain wanita pertama yang bekerja sebagai komentator rugby Test pria di Inggris, tepatnya di siaran Piala Dunia Rugby 2015 oleh ITV Sport. Ia juga terpilih sebagai anggota Dewan RFU pada 2016—badan yang sama dengan Smith—dan menjabat selama sembilan tahun.
Kasus ini kembali menyoroti budaya internal RFU yang pernah dicap "57 orang tua kolot" oleh kapten Inggris Will Carling pada 1995. Kini, di bawah desakan CEO Bill Sweeney, dewan tersebut tengah menjalani reformasi tata kelola. Rencananya, jumlah anggota akan dikurangi dan wewenangnya dipangkas menjadi hanya bersifat advisori. Posisi di dewan memang tidak bergaji, tetapi memberikan keuntungan hospitality yang cukup besar—untuk setiap pertandingan timnas Inggris pria, nilainya bisa mencapai ratusan poundsterling.
Bagi pengamat olahraga di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa isu kesetaraan gender masih menjadi pekerjaan rumah di banyak cabang olahraga, termasuk yang populer seperti rugby. Meski sanksi telah dijatuhkan, pertanyaan tentang efektivitas hukuman dan komitmen organisasi dalam memberantas diskriminasi masih menggantung. Apakah reformasi tata kelola RFU akan cukup untuk mengubah budaya yang sudah mengakar, atau justru insiden seperti ini akan terus berulang?


