ICC Uji Coba Bola Pink untuk Atasi Gangguan Cahaya di Test Cricket
Baca dalam 60 detik
- ICC akan menguji penggunaan bola pink sebagai pengganti bola merah saat cahaya buruk menghentikan pertandingan Test.
- Langkah ini merespons keluhan pemain, penonton, dan penyiar yang frustrasi karena waktu bermain hilang akibat kondisi pencahayaan.
- Uji coba belum akan diterapkan pada seri Inggris vs Selandia Baru pekan ini, dan masih menunggu persetujuan kedua tim.

International Cricket Council (ICC) resmi meluncurkan uji coba penggunaan bola pink untuk menggantikan bola merah tradisional dalam pertandingan Test yang terhenti akibat buruknya kondisi cahaya. Langkah ini diambil untuk mengurangi waktu bermain yang hilang—masalah yang semakin mengganggu di era hampir semua stadion telah dilengkapi lampu sorot.
Dalam pengumuman pada Senin lalu, ICC menyatakan bahwa bola pink—yang selama ini hanya digunakan dalam pertandingan siang-malam—kini dapat dijadikan opsi saat cahaya alami tidak memadai. Namun, penerapan aturan ini membutuhkan persetujuan dari kedua tim yang bertanding. Uji coba tersebut belum akan dimulai pada laga pertama antara Inggris dan Selandia Baru di Lord's, Kamis ini.
Frustrasi terhadap penghentian pertandingan akibat cahaya buruk bukanlah hal baru. Pada 2024, lebih dari separuh hari pertama Test ketiga Inggris melawan Sri Lanka di The Oval harus ditiadakan karena masalah serupa. Mantan kapten Inggris Michael Vaughan saat itu mendesak penggunaan bola pink agar pertandingan bisa berlanjut. “Tim harus menerima bahwa mereka kurang beruntung. Saya hanya ingin melihat mereka terus bermain,” ujarnya.
ICC belum merinci durasi uji coba, namun akan bekerja sama dengan Marylebone Cricket Club (MCC) untuk meneliti teknologi pencahayaan bagi ofisial pertandingan dan stadion. Sementara itu, England and Wales Cricket Board (ECB) tengah berkoordinasi dengan ICC untuk memahami mekanisme teknis percobaan ini.
Dominasi Australia dalam Test siang-malam menjadi catatan tersendiri. Tim Kanguru memenangi 14 dari 15 pertandingan dengan bola pink, termasuk seluruh empat laga Ashes di kandang. Inggris sendiri dilaporkan mempertimbangkan untuk menolak Test siang-malam pada tur Ashes 2029-2030, meski Test peringatan 150 tahun Australia vs Inggris di Melbourne pada Maret mendatang tetap akan dimainkan di malam hari.
Di luar isu bola pink, rapat dewan ICC di Ahmedabad juga menyetujui izin bagi pelatih kepala untuk masuk lapangan saat jeda minum dalam T20 internasional—mengikuti tren dari liga franchise. ICC juga menyatakan keprihatinan atas menjamurnya turnamen franchise dan akan membentuk komite untuk menyelaraskan kalender internasional dengan kompetisi tersebut.
Dalam perkembangan lain, keanggotaan Cricket Canada di ICC resmi dibekukan karena pelanggaran serius terhadap kewajiban keanggotaan. Langkah ini menandai sanksi terbaru terhadap salah satu anggota asosiasi yang bermasalah.
Ke depan, uji coba bola pink ini berpotensi mengubah wajah Test cricket, terutama di negara dengan kondisi cahaya yang tidak menentu. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung: akankah tim-tim besar bersedia mengorbankan keunggulan bermain dengan bola merah demi kelancaran pertandingan?


