Benteng Perang Salib Abad ke-12 di Lebanon Direbut Pasukan Israel: Simbol Sejarah yang Kembali Memanas
Baca dalam 60 detik
- Pasukan Israel menguasai Kastil Beaufort di Lebanon selatan, benteng peninggalan Perang Salib yang pernah dikuasai Knights Templar, dalam operasi darat terdalam dalam 25 tahun terakhir.
- Kastil yang dibangun pada 1139 M oleh Raja Fulk dari Yerusalem ini menjadi saksi pergantian kekuasaan antara Tentara Salib, pasukan Saladin, dan Kesultanan Mamluk sebelum akhirnya dikuasai Lebanon modern.
- Perebutan situs bersejarah ini menyoroti kerentanan warisan budaya di zona konflik dan memicu pertanyaan tentang nasib benda cagar budaya di tengah eskalasi militer.

Pasukan Israel merebut Kastil Beaufort, benteng bersejarah abad ke-12 di Lebanon selatan, dalam apa yang disebut sebagai penetrasi darat terdalam ke wilayah Lebanon dalam lebih dari seperempat abad. Situs yang dikenal pula dengan nama Qal'at al-Shaqif ini bukan sekadar puing batu kunoโia adalah simbol strategis yang telah menjadi rebutan sejak era Perang Salib.
Berada di atas tebing curam di tepi Ngarai Litani, kastil ini menawarkan panorama luas ke seluruh Lebanon selatan. Posisinya yang dominan membuatnya menjadi incaran berbagai penguasa sepanjang sejarah. Dibangun pada 1139 M oleh Raja Fulk dari Kerajaan Yerusalem, benteng ini awalnya dirancang untuk memperkuat permukiman Frankโsebutan bagi pendatang Eropa Barat di Timur Tengah saat itu. Namun, konstruksinya tidak pernah selesai dalam satu masa; berbagai lapisan arsitektur dari penguasa Muslim kemudian ikut memperkaya struktur yang kini tersisa.
Sejarah Kastil Beaufort tidak bisa dilepaskan dari sosok Salahuddin al-Ayyubi (Saladin), sultan Mesir dan Suriah yang merebutnya pada 1190 M. Perebutan itu adalah bagian dari rangkaian kemenangan besarnya, termasuk Pertempuran Hattin (1187) yang mengakhiri dominasi Tentara Salib di Yerusalem. Setelah dikuasai Muslim selama setengah abad, kastil ini kembali ke tangan Latin melalui perjanjian dengan Theobald I dari Navarre dalam Perang Salib Baron, dan akhirnya diserahkan kepada Knights Templar pada 1260 M.
Knights Templar sendiri adalah ordo militer-religius unik yang menggabungkan kehidupan biara dengan kemampuan tempur. Didirikan pada 1118 di Kerajaan Yerusalem, mereka awalnya bertugas melindungi peziarah Kristen. Namun, peran mereka berkembang menjadi pasukan elit yang diandalkan raja-raja Yerusalem. Menurut pelindung mereka, Bernard dari Clairvaux, jiwa seorang Templar dilindungi oleh baju zirah iman sebagaimana tubuhnya dilindungi baja. Meski hanya menguasai Beaufort selama delapan tahun, keberadaan mereka menambah lapisan historis pada situs ini.
Bagi Indonesia, peristiwa ini mengingatkan pada kerentanan situs warisan budaya di kawasan konflik. Seperti halnya Candi Borobudur yang pernah terancam saat erupsi Merapi atau konflik di Maluku, benteng bersejarah di zona perang sering menjadi korban tak langsung. Masyarakat Indonesia yang memiliki sejarah panjang interaksi dengan dunia Islam dan Kristen mungkin melihat perebutan ini sebagai cerminan betapa rapuhnya simbol-simbol peradaban ketika politik dan militer berbicara.
Perebutan Kastil Beaufort oleh Israel terjadi di tengah eskalasi ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel. Meskipun motif militer tampak dominan, simbolisme sejarah dari benteng yang pernah diperebutkan oleh Saladin dan Tentara Salib ini tidak bisa diabaikan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah situs warisan dunia seperti ini akan tetap dihormati sebagai milik bersama umat manusia, atau justru menjadi alat legitimasi politik di medan perang modern?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7690730/original/050847900_1780488058-2.jpg)
