Capcom Buka Peluang Resident Evil Berlatar Jepang, Tantangan Baru di Tengah Kesuksesan Silent Hill f
Baca dalam 60 detik
- Produser Resident Evil, Masato Kumazawa, mengindikasikan bahwa seri horor ikonik ini bisa saja mengambil latar di Jepang untuk pertama kalinya.
- Langkah tersebut merupakan respons terhadap kejenuhan pasar dan terinspirasi oleh kesuksesan Konami dengan Silent Hill f yang berlatar Jepang.
- Jika terealisasi, game ini berpotensi menghadirkan nuansa horor khas Jepang yang belum pernah dieksplorasi dalam franchise sebelumnya.

Produser senior Capcom, Masato Kumazawa, untuk pertama kalinya secara terbuka membuka kemungkinan bahwa seri Resident Evil suatu hari akan mengambil latar di Jepang. Selama lebih dari dua dekade, waralaba horor survival ini telah menjelajahi berbagai belahan dunia—dari Amerika Serikat, Eropa, Afrika, hingga Antartika—namun belum sekalipun menyentuh tanah kelahiran pengembangnya sendiri.
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Kumazawa mengakui bahwa gagasan tersebut sudah lama mengemuka di kalangan penggemar Jepang dan juga tim pengembang. “Saya pikir latar Jepang adalah ide yang pernah terlintas di benak semua penggemar Resident Evil di Jepang, dan saya sendiri sudah mempertimbangkannya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa karena tim pengembang sebagian besar berada di Jepang, hampir setiap anggota pernah memikirkan kemungkinan tersebut.
Namun, Kumazawa menegaskan bahwa Capcom tidak akan mengorbankan elemen fundamental seri, seperti karakter dan alur cerita yang telah menjadi ciri khas. “Kami tidak akan berkompromi dengan elemen dasar seri ini. Tapi jika kami terus merilis game dengan tipe yang sama, pemain akan bosan. Itulah mengapa kami ingin mengambil tantangan baru ke depannya,” katanya.
Pernyataan Kumazawa muncul tidak lama setelah kesuksesan Silent Hill f garapan Konami, yang justru berani mengambil latar Jepang untuk pertama kalinya dalam sejarah waralaba horor tersebut. Langkah berani Konami itu menuai pujian dan secara tidak langsung menjadi katalis bagi Capcom untuk mengeksplorasi kemungkinan serupa. Analis industri menilai bahwa persaingan antara dua raksasa game Jepang ini justru menguntungkan para pemain, karena mendorong inovasi dalam genre horor.
Bagi penggemar di Indonesia, wacana ini menarik karena Resident Evil memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air. Jika Capcom benar-benar menghadirkan latar Jepang, para pemain Indonesia akan merasakan pengalaman horor yang berbeda—dari setting urban metropolis hingga pedesaan tradisional Jepang yang sarat mitos dan legenda. Belum lagi potensi kolaborasi dengan elemen budaya pop Jepang yang sudah akrab di telinga penggemar lokal.
Meski demikian, Kumazawa belum memberikan jadwal atau detail lebih lanjut. Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah Capcom menghadirkan horor Jepang yang autentik tanpa kehilangan identitas Resident Evil yang sudah mapan? Atau justru langkah ini akan menjadi titik balik yang membawa waralaba ke arah yang lebih segar dan relevan?



