PDIP Anggap Wajar Jokowi Duduki Kursi Dewan Pembina PSI
Baca dalam 60 detik
- PDIP mengaku sudah mengetahui rencana Jokowi menjadi Ketua Dewan Pembina PSI sejak partai itu mendaftarkan kepengurusan baru ke Kemenkumham.
- Djarot Saiful Hidayat menilai keterlambatan PSI mengumumkan posisi Jokowi sebagai bagian dari drama politik yang sudah bisa dibaca publik.
- PSI masih menunggu waktu yang tepat dari Ketua Umum Kaesang Pangarep untuk mengumumkan secara resmi jabatan Jokowi di partainya.

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menyatakan tidak terkejut dengan kabar yang menyebut Presiden ke-7 Joko Widodo bakal menjabat Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurutnya, informasi itu sudah dapat ditebak sejak PSI menyerahkan susunan kepengurusan hasil Kongres Solo 2025 ke Kementerian Hukum dan HAM.
โKami sudah tahu dari awal. Waktu pendaftaran ke Kemenkumham, jelas tertulis inisial โJโ di posisi dewan pembina. Jadi tidak ada yang mengejutkan,โ ujar Djarot di sela Bimbingan Teknis PDIP, Sabtu (30/5). Ia menambahkan bahwa publik sebenarnya sudah cerdas membaca situasi politik semacam ini.
Djarot menilai keputusan PSI yang belum juga mengumumkan nama Jokowi secara resmi hanyalah drama politik. โRakyat sudah pandai melihat drama-drama seperti itu. Semua sudah jelas,โ katanya. Pernyataan ini sekaligus menjadi sindiran halus terhadap partai yang kini dipimpin Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi.
Kabar perpindahan Jokowi ke PSI sebenarnya sudah mengemuka sejak beberapa waktu lalu. Bestari Barus, Ketua DPP PSI, membenarkan bahwa Jokowi akan mengisi posisi yang sebelumnya dipegang Jeffrie Geovanie. Namun, ia menegaskan bahwa pengumuman resmi masih menunggu keputusan Ketua Umum Kaesang Pangarep. โKami tidak ingin mendahului beliau,โ kata Bestari saat dihubungi, Selasa (26/5).
Langkah Jokowi bergabung dengan PSI dinilai sebagai manuver politik yang menarik. Sebagai mantan kader PDIP, keputusan ini menegaskan jarak politik yang semakin lebar antara Jokowi dan partai yang membesarkannya. PDIP sendiri, melalui Djarot, memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut. โItu hak politik Pak Jokowi. Kami hanya mengamati,โ ujarnya.
Dalam konteks politik Indonesia, perpindahan tokoh senior seperti Jokowi ke partai lain tentu memiliki dampak. PSI, yang selama ini dikenal sebagai partai anak muda, kini mendapat tambahan figur senior dengan pengalaman nasional. Hal ini bisa memperkuat posisi tawar PSI dalam koalisi politik ke depan. Namun, di sisi lain, langkah ini juga memicu spekulasi tentang arah dukungan Jokowi pada pemilu mendatang.
Ke depan, publik akan menanti kapan tepatnya PSI mengumumkan posisi Jokowi secara resmi. Apakah pengumuman itu akan dilakukan pada momen politik tertentu, atau justru sengaja ditunda untuk menjaga efek kejutan? Yang jelas, drama politik seputar Jokowi dan PSI masih akan terus bergulir.


