Pelatih Interim Italia Sesalkan Ulah Direktur Klub: Akar Masalah Sepak Bola Negeri Pizza
Baca dalam 60 detik
- Silvio Baldini, pelatih sementara Italia, menuding para direktur klub Serie A lebih mementingkan keuntungan pribadi ketimbang pengembangan pemain muda.
- Kritik ini muncul setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026, memicu perombakan di federasi dan skuad yang diisi 20 pemain tanpa caps.
- Baldini menilai budaya mengutamakan pemain tua di bursa transfer menghambat regenerasi dan membuat permainan Italia lamban.

Pelatih interim tim nasional Italia, Silvio Baldini, melontarkan kritik tajam terhadap para direktur klub Serie A yang dinilainya menjadi biang kerok kemunduran sepak bola Italia di pentas global. Dalam konferensi pers perdananya Jumat lalu, Baldini menegaskan bahwa banyak petinggi klub lebih sibuk memikirkan keuntungan pribadi di bursa transfer ketimbang mengembangkan talenta muda.
Baldini ditunjuk sebagai pelatih sementara setelah Gennaro Gattuso mengundurkan diri menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026. Ia akan memimpin Gli Azzurri dalam laga uji coba melawan Luksemburg pada 3 Juni dan Yunani pada 7 Juni. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) belum akan menunjuk pelatih tetap sebelum pemilihan presiden FIGC pada 22 Juni.
Dalam skuad yang dipanggil, Baldini menyertakan 20 pemain yang belum pernah memperkuat tim senior, sebuah langkah yang ia akui sebagai bentuk protes terhadap minimnya kesempatan bagi pemain muda di level klub. “Sepak bola Italia berada di tangan para direktur yang hanya memikirkan kepentingan sendiri, bukan pertumbuhan olahraga ini,” ujar Baldini, seperti dikutip Football Italia.
Baldini menambahkan bahwa banyak direktur klub kerap disebut sebagai “penipu” karena lebih memilih merekrut pemain tua ketimbang memberi kesempatan pada produk akademi. “Apa untungnya merekrut pemain berusia 39 tahun daripada mencari bakat dari akademi? Selama tidak ada orang serius di pucuk pimpinan klub, masalah ini akan terus berlanjut,” tegasnya. Ia juga menyoroti lambatnya tempo permainan Italia yang menurutnya akibat minimnya pemain muda yang membawa semangat, ritme, dan kecepatan.
Kritik Baldini mengingatkan pada kondisi sepak bola Indonesia, di mana klub-klub Liga 1 kerap lebih memilih pemain naturalisasi atau senior ketimbang mengorbitkan pemain muda. Minimnya menit bermain bagi pemain U-23 di kompetisi domestik menjadi keluhan berulang. Jika Italia—negara dengan tradisi sepak bola kuat—saja menghadapi masalah serupa, Indonesia perlu introspeksi lebih dalam tentang regenerasi pemain.
Baldini menegaskan bahwa ia tidak berniat menjadi pelatih tetap. “Saya di sini hanya untuk membantu, bukan untuk karier,” ujarnya. Ia berharap kritiknya bisa menjadi cambuk bagi federasi dan klub untuk berbenah. Pertanyaannya, mampukah FIGC dan klub-klub Serie A keluar dari lingkaran setan ini, atau Italia akan terus tertinggal dari negara-negara Eropa lainnya?



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5621263/original/092215500_1778211074-jay_2.jpg)