Mantan Wali Kota Arcadia Mengaku sebagai Agen Ilegal China: Ketegangan Baru di Komunitas Asia-Amerika
Baca dalam 60 detik
- Eileen Wang, mantan Wali Kota Arcadia, California, mengaku bersalah menjadi agen tak terdaftar pemerintah China dengan menyebarkan konten pro-Beijing.
- Kasus ini memicu kekhawatiran akan stigmatisasi komunitas Asia-Amerika di tengah meningkatnya ketegangan AS-China dan penindakan keras FBI terhadap spionase.
- Wang mengklaim dimanipulasi oleh mantan tunangannya, yang juga telah divonis empat tahun penjara atas tuduhan serupa.

Seorang politikus Asia-Amerika pertama yang menjabat sebagai Wali Kota Arcadia, California, justru terjerat kasus spionase. Eileen Wang, 56 tahun, mengaku bersalah di pengadilan federal pada Jumat lalu karena bertindak sebagai agen ilegal pemerintah China tanpa mendaftar ke otoritas AS. Pengakuan ini membuka luka lama di komunitas imigran China dan Taiwan yang telah lama membangun kehidupan di San Gabriel Valley.
Arcadia, kota berpenduduk sekitar 53.000 jiwa yang mayoritas warganya kini berasal dari Asia, mengalami perubahan demografis drastis dalam dua dekade terakhir. Imigran dari China, Taiwan, dan Hong Kong berbondong-bondong ke wilayah yang pernah disebut sebagai "Chinese Beverly Hills" ini untuk menikmati kehidupan tanpa hambatan bahasa dan akses bisnis yang luas. Namun, kasus Wang justru memicu kekhawatiran bahwa seluruh komunitas akan dicap sebagai mata-mata.
Pelaksana Tugas Wali Kota Paul Cheng, yang lahir di Taiwan dan dibesarkan di AS, mengeluarkan pernyataan tegas. "Kita tidak boleh membiarkan momen ini menjadi alasan untuk mengecap seluruh komunitas dengan satu kuas atau mempolitisasi etnisitas," ujarnya. Cheng sendiri mengaku telah menerima cercaan rasis, termasuk disuruh pulang ke China, meski ia bukan berasal dari sana.
Menurut dokumen pengadilan, Sun dan rekannya, John Chenโyang juga mengaku bersalahโmenyebut Wang sebagai "Bintang Politik Baru" dalam laporan mereka kepada pejabat China. Mereka membanggakan koneksi Wang dengan politisi arus utama AS dan berkomitmen melawan "kekuatan anti-China", termasuk kemerdekaan Taiwan dan Falun Gong. Dalam pesan Januari 2023, Chen menulis kepada Wang, "Kamu melakukan pekerjaan dengan baik, saya harap kamu terus berkarya, buat rakyat China bangga."
Wei Li, profesor Studi Asia Pasifik Amerika di Arizona State University, menilai upaya China memengaruhi diaspora bukanlah hal mengejutkan. "Banyak negara, jika memiliki kemauan dan sarana, akan mencoba memengaruhi diaspora mereka," katanya. Namun, kasus ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan persaingan ekonomi antara AS dan China, serta penindakan keras Departemen Kehakiman AS terhadap spionase China. Pada April lalu, seorang pria dinyatakan bersalah karena menjalankan pos mata-mata China di Chinatown Manhattan.
Bagi warga Arcadia, berita ini bagaikan tamparan. Ted Tseng, imigran Taiwan yang telah tinggal di Arcadia selama 40 tahun, khawatir citra komunitasnya tercoreng. "Saya khawatir citra kami rusak," ujarnya. Sementara itu, Aliza Mo, imigran China yang datang enam tahun lalu demi pendidikan anak-anaknya, awalnya mengira berita itu dibesar-besarkan. Namun setelah mengetahui detail pengakuan Wang, ia mengubah pandangannya. "Saya pikir tidak pantas bagi siapa pun melakukan hal seperti itu," katanya.
Kasus Wang juga menyoroti dilema politik lokal. April Verlato, mantan anggota dewan yang pernah bekerja dengan Wang, menyesalkan bahwa Wang tidak mengundurkan diri begitu penyelidikan dimulai. "Dia egois, dilantik sebagai wali kota dan tidak mundur padahal tahu akan mengaku bersalah," ujarnya. Pengacara senior Arcadia, Gene Sun, juga mempertanyakan etika Wang yang tetap menjabat. Di sisi lain, beberapa warga menuntut pengunduran diri anggota dewan yang tersisa karena dianggap membiarkan Wang.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan kerentanan diaspora terhadap pengaruh negara asal. Dengan banyaknya warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri, termasuk di AS, penting untuk menjaga netralitas politik dan ketaatan hukum setempat. Di era ketegangan geopolitik, setiap individu harus sadar bahwa tindakan pribadi dapat berdampak luas pada komunitasnya. Pertanyaan besarnya: akankah kasus Wang memperkuat pengawasan terhadap diaspora China di AS, atau justru memicu gelombang baru diskriminasi?