Bahlil Lahadalia Ingin Bertemu Pembuat Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng': Apresiasi Kreativitas Warganet
Baca dalam 60 detik
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan keinginan bertemu dengan kreator lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang viral di media sosial.
- Lagu tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) dengan lirik dari komentar warganet, mencerminkan tren kreativitas digital di Indonesia.
- Bahlil mengapresiasi kreativitas warganet namun mengingatkan agar konten tetap terukur dan tidak melanggar SARA.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku penasaran dan ingin bertemu langsung dengan pencipta lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang belakangan viral di berbagai platform media sosial. Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam sebuah video yang diunggah oleh presenter Raffi Ahmad di Instagram @raffinagita1717, yang langsung menuai perhatian publik.
Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' pertama kali dipopulerkan oleh influencer Sania Leonardo melalui akun @panggilakubambang, dengan jumlah tayangan mencapai 55,6 juta dan 4,2 juta suka. Namun, berdasarkan penelusuran, lagu tersebut ternyata dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) dengan lirik yang diambil dari kompilasi komentar warganet terhadap sang menteri. Akun TikTok @VOKALIS_NETIZEN diduga menjadi pihak di balik pembuatan lagu tersebut, yang pada 29 April 2026 mengunggah komentar-komentar warganet sebagai cikal bakal lirik.
Dalam perbincangan dengan Raffi Ahmad, Bahlil mengaku setiap pagi mendengar lagu tersebut, bahkan anaknya pun ikut menertawakannya. "Kalau yang bersangkutan berkenan, saya akan mengundang untuk berbincang-bincang sekaligus makan. Karena penasaran juga saya. Saya lagi ibadah tapi setiap pagi (dengar lagu ini). Anak saya aja ketawain saya," ujar Bahlil. Ia menegaskan bahwa dirinya menghargai kreativitas warganet, terutama anak muda, selama dalam kerangka yang baik dan benar.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kreativitas digital, terutama yang melibatkan tokoh publik, dapat dengan cepat menyebar dan menjadi perbincangan luas. Bahlil pun memberikan catatan agar penggunaan media sosial tetap terukur dan tidak masuk ke ranah SARA. "Saya menghargai kreativitas orang-orang, anak muda sekarang, teman-teman. Cuma satu aja saran saya, di era demokrasi, sosial media ini penting. Namun, kalo boleh juga dipergunakan dengan terukur. Contoh, jangan sampai masuk di SARA," kata Bahlil.
Menurut pengamat media sosial, tren lagu AI yang menggunakan komentar warganet sebagai lirik merupakan bentuk partisipasi publik yang unik, namun juga memerlukan etika dalam penyebarannya. Bahlil sendiri mengakui bahwa menjadi pejabat publik berarti harus siap menerima segala bentuk kritik dan kreativitas warganet. "Jadi kreativitas itu harus dihargai selama dalam kerangka yang baik dan benar. Ya risiko jadi pejabat publik harus menerima semuanya," ucapnya.
Ke depan, pertemuan antara Bahlil dan kreator lagu tersebut masih dinantikan. Apakah akan menjadi ajang diskusi produktif atau sekadar seremoni belaka? Yang jelas, respons Bahlil menunjukkan bahwa pejabat publik pun tak kebal terhadap gelombang kreativitas digital warganet.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7532552/original/066287400_1780306637-IMG-20260601-WA0135.jpg)