IHSG Melompat 1,43% di Tengah Harapan Gencatan Senjata Iran-AS, Saham Konglomerat Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 87,69 poin ke level 6.217,88 pada Jumat (29/5/2026), didorong oleh reli saham konglomerat dan sentimen positif dari prospek deeskalasi konflik Timur Tengah.
- Saham Grup Barito, terutama BREN yang menyentuh batas auto rejection atas (ARA), menjadi motor penggerak utama IHSG dengan kontribusi 24,35 poin indeks, diikuti oleh BRPT, AMMN, dan DCII.
- Penguatan IHSG sejalan dengan bursa Asia-Pasifik yang menguat, setelah sinyal kesepakatan sementara AS-Iran meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lompatan signifikan pada perdagangan Jumat (29/5/2026), menembus level 6.217,88 setelah sempat tertekan di sesi awal. Kenaikan 1,43% ini menjadi sinyal pemulihan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian geopolitik global dan domestik.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp 16,06 triliun dengan volume 22 miliar saham, menandakan aktivitas beli yang masif. Dari 813 saham yang diperdagangkan, 319 menguat, 333 melemah, dan 161 stagnan. Sektor infrastruktur, barang baku, dan teknologi memimpin penguatan, sementara konsumer primer, properti, finansial, dan kesehatan justru terkoreksi tipis.
Fenomena yang menonjol adalah bangkitnya saham-saham konglomerat yang sebelumnya terpuruk akibat penyesuaian indeks MSCI dan FTSE. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi primadona dengan melesat 25% ke Rp 3.300, menyentuh batas auto rejection atas (ARA). Kontribusinya terhadap IHSG mencapai 24,35 poin. Tidak ketinggalan, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) nyaris ARA dan menyumbang 20,25 poin. Saham konglomerat lain seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) turut menjadi penopang.
Katalis eksternal yang mendorong aksi beli adalah meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Washington dan Teheran "sebagian besar telah menyepakati" syarat-syarat perjanjian untuk menghentikan sementara konflik yang telah berlangsung tiga bulan. Harapan deeskalasi ini memicu investor kembali masuk ke aset berisiko, termasuk pasar saham Asia-Pasifik. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,88%, Kospi Korea Selatan melonjak 2,68%, dan S&P/ASX 200 Australia menguat 0,72%.
Di Wall Street, tiga indeks utama ditutup pada rekor tertinggi baru pada Kamis (28/5), didorong reli saham teknologi. Saham Snowflake melonjak 36,5% setelah memberikan proyeksi kinerja kuartal kedua yang kuat dan mengumumkan belanja US$6 miliar untuk layanan Amazon Web Services. Optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) kembali menguat, memberikan sentimen positif bagi bursa global.
Bagi investor Indonesia, pergerakan IHSG kali ini memberikan pelajaran penting. Saham-saham konglomerat yang sempat dihantam oleh rebalancing indeks global ternyata mampu bangkit dengan cepat, menunjukkan fundamental yang solid. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko geopolitik dan volatilitas pasar. Pertanyaan besarnya, apakah reli ini berkelanjutan atau hanya sekadar rebound teknis? Dengan masih adanya ketidakpastian suku bunga global dan potensi eskalasi konflik, kewaspadaan tetap diperlukan.



