Rupiah Terus Tergelincir, Mendekati Level Rp17.900 per Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah melemah 0,51% ke Rp17.865 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi, mendekati level psikologis Rp17.900.
- Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sejak sebelum libur Idul Adha, dengan rupiah sudah menembus level Rp17.800.
- Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh sentimen global dan domestik, menguji ketahanan pasar keuangan Indonesia.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke titik terendah baru pada perdagangan Jumat (29/5/2026), mendekati level psikologis Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitif, rupiah melemah 0,51% ke posisi Rp17.865 per dolar AS pada pukul 09.33 WIB, memperpanjang tren pelemahan yang sudah berlangsung sejak pekan sebelumnya.
Pembukaan perdagangan pagi ini saja sudah menunjukkan tekanan, di mana rupiah dibuka melemah 0,14% di level Rp17.800 per dolar AS. Level tersebut menandai tembusnya kembali batas psikologis Rp17.800 yang sempat dipertahankan beberapa hari terakhir. Pelemahan yang semakin dalam pada sesi awal perdagangan mengindikasikan minimnya daya tahan rupiah terhadap arus modal asing yang keluar.
Kondisi ini merupakan kelanjutan dari pelemahan yang terjadi pada perdagangan terakhir sebelum libur Idul Adha, Selasa (26/5/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,25% di level Rp17.775 per dolar AS. Dengan demikian, dalam sepekan terakhir rupiah telah kehilangan lebih dari 0,7% nilainya terhadap greenback.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, pergerakan rupiah ini menjadi sinyal waspada. Pelemahan yang terus berlanjut dapat mendorong Bank Indonesia untuk melakukan intervensi lebih agresif di pasar valas, baik melalui operasi pasar terbuka maupun instrumen moneter lainnya. Di sisi lain, impor barang dan bahan baku menjadi lebih mahal, berpotensi menekan inflasi dan daya beli masyarakat.
Analis pasar uang menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Di tingkat global, penguatan dolar AS didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama, sementara dari dalam negeri, ketidakpastian kebijakan fiskal dan arus modal asing yang keluar dari pasar obligasi turut memperberat rupiah.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada respons otoritas moneter dan fiskal. Apakah Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan atau memperketat likuiditas? Atau justru pemerintah akan mengeluarkan kebijakan untuk menstabilkan pasar? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah rupiah mampu bertahan di bawah level Rp17.900 atau justru melanjutkan pelemahan menuju Rp18.000.



