Taman Literasi Martha Tiahahu: Ruang Hijau yang Mengubah Wajah Blok M Jadi Magnet Gen Z
Baca dalam 60 detik
- Taman Literasi Martha Tiahahu di Blok M, Jakarta Selatan, telah bertransformasi menjadi pusat aktivitas Gen Z berkat fasilitas modern dan biaya terjangkau.
- Faktor ekonomi dan kemudahan akses transportasi umum menjadi daya tarik utama, menggantikan kafe mahal sebagai tempat nongkrong.
- Kehadiran taman ini memperkuat identitas Blok M sebagai 'negara' baru bagi anak muda, sekaligus menegaskan Jakarta sebagai pusat literasi.

Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tak lagi sekadar terminal dan pusat perbelanjaan. Kini, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu telah menjelma menjadi episentrum baru bagi Generasi Z, menggeser dominasi kafe dan mal sebagai tempat berkumpul. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan perubahan preferensi ruang publik di ibu kota.
Terletak di Jalan Sisingamangaraja, taman seluas 9.710 meter persegi ini menyediakan beragam fasilitas: perpustakaan mini, amfiteater, taman bermain anak, mushola, hingga area kuliner. Kombinasi ini menjadikannya destinasi favorit, terutama pada akhir pekan dan sore hari. Bagi mahasiswa jurnalistik Nasya (21), Blok M kini identik dengan taman ini. "Sampai orang-orang bilang ini negara Blok M, apa-apa dikit-dikit Blok M. Main, nge-date, bahkan ngonten," ujarnya, menggambarkan magnet yang tak tertahankan.
Fenomena serupa diakui Adi (23), seorang content creator yang rutin memotret pengunjung di taman. Menurutnya, Blok M adalah "surga" bagi Gen Z. Namun, daya tarik utama bukan hanya estetika. Ekonomi menjadi faktor krusial. "Kalau mau nongkrong di kafe, harganya mahal. Di sini gratis, bisa bawa makanan sendiri," kata Adi. Kebebasan membawa konsumsi dari luar, seperti ditambahkan Nasya, membuat pengunjung tidak terpaku pada harga kafe yang kerap lebih mahal.
Kemudahan akses transportasi umum—halte CSW, terminal Blok M, dan stasiun MRT—semakin memperkuat posisi taman sebagai ruang publik inklusif. Bagi anak muda yang enggan mengeluarkan biaya transportasi mahal, lokasi ini menjadi titik temu ideal. Sejak diresmikan pada 18 September 2022 oleh Gubernur Anies Baswedan, taman ini langsung viral dan terus menjadi pilihan utama, melengkapi ekosistem "Negara Blok M" yang sudah ada.
Penamaan taman ini bukan tanpa makna. Martha Christina Tiahahu, pahlawan nasional asal Maluku yang turun berperang di usia 17 tahun bersama Pattimura, dipilih untuk merepresentasikan perpaduan kelembutan dan semangat juang. Menurut Anies saat peresmian, taman ini menegaskan Jakarta bukan hanya pusat pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga pusat literasi yang diakui UNESCO.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah fenomena ini akan bertahan atau hanya menjadi euforia sesaat. Namun, dengan fondasi aksesibilitas, biaya terjangkau, dan fasilitas memadai, Taman Literasi Martha Tiahahu berpotensi menjadi model ruang publik perkotaan yang mengedepankan kebutuhan generasi muda tanpa mengorbankan nilai sejarah dan literasi.



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7438136/original/047766900_1780214462-Ombak_Bali.jpeg)