Idul Adha di Rutan: Istri Gus Yaqut Bawa Tempe Goreng dan Doa untuk Suami
Baca dalam 60 detik
- Eny Retno menjenguk suaminya, Yaqut Cholil Qoumas, di Rutan KPK pada Idul Adha 2026 dengan membawa tempe goreng dan makanan lain yang aman bagi penderita GERD.
- Di balik kunjungan hangat, Eny mengenang perjuangan Yaqut menangani haji 2023 dan berharap kebaikannya menjadi penolong dalam menghadapi kasus hukum.
- Pertemuan itu menjadi momen saling menguatkan, dengan obrolan seputar keluarga untuk mengalihkan pikiran Yaqut dari masalah hukum yang dihadapinya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7111178/original/081662600_1779894762-30756.jpg)
Idul Adha tahun ini menjadi momen yang berbeda bagi Eny Retno, istri mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Alih-alih merayakan bersama di rumah, ia harus menjenguk sang suami di Rumah Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu, 27 Mei 2026.
Eny tiba di rutan dengan membawa sejumlah makanan favorit Yaqut, termasuk tempe goreng yang menjadi menu andalan. Namun, ketupat dan daging—hidangan khas Idul Adha—sengaja tidak dibawa lantaran Yaqut mengidap GERD (gastroesophageal reflux disease) yang mengharuskannya menghindari makanan bersantan. "Bapak enggak terlalu rewel soal makanan, cuma karena GERD-nya jadi harus hati-hati," ujar Eny kepada wartawan.
Di tengah keterbatasan ruang dan waktu, Eny berusaha menghadirkan suasana hangat. Ia memastikan kondisi suaminya sehat dan terus memberikan dukungan moral. "Alhamdulillah Abah sehat di dalam," katanya singkat. Pertemuan itu tidak hanya soal mengantar makanan, tetapi juga menjadi ajang saling menguatkan di tengah tekanan kasus hukum yang membelit Yaqut.
Dalam obrolan yang berlangsung, Eny sengaja mengarahkan pembicaraan pada hal-hal ringan seperti anak-anak dan keluarga. Tujuannya agar Yaqut tidak terus-menerus memikirkan persoalan hukum yang dihadapinya. "Kalau sama saya dan anak-anak, pasti ngobrol tentang keluarga, tentang Ibu. Jadi dibawa ke hal-hal yang menguatkan beliau," jelas Eny.
Eny juga mengenang masa-masa Yaqut menjabat Menteri Agama, khususnya saat menangani penyelenggaraan haji 2023. Ia mengungkapkan bahwa suaminya pernah menangis setelah salat di Muzdalifah karena kewalahan menghadapi banyaknya jemaah haji ilegal yang mempersulit pelayanan jemaah resmi. "Beliau sampai bilang, 'Ya Allah, saya harus bagaimana lagi?'," tutur Eny. Menurutnya, Yaqut bekerja keras melayani jemaah haji meski kondisi kesehatannya menurun. Karena itu, Eny berharap segala kebaikan yang pernah dilakukan suaminya untuk para jemaah bisa menjadi penolong baginya dalam menghadapi persoalan hukum saat ini. "Semoga apa pun hal baik yang pernah Abah lakukan untuk jemaah haji bisa menjadi wasilah penolong beliau," ujarnya.
Kunjungan ini menyoroti sisi humanis di balik proses hukum yang tengah berjalan. Bagi publik Indonesia, kasus Yaqut menjadi pengingat bahwa pejabat publik pun tak luput dari jerat hukum. Namun, di sisi lain, pengabdiannya dalam menangani haji 2023—meski kontroversial—tetap dikenang oleh keluarganya sebagai amal baik yang diharapkan dapat meringankan bebannya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana perkembangan kasus Yaqut akan berujung. Akankah kebaikan yang pernah ia torehkan menjadi pertimbangan dalam proses hukum? Atau justru sebaliknya, kasus ini akan menjadi preseden baru dalam pemberantasan korupsi di Indonesia? Hanya waktu yang akan menjawab, namun dukungan keluarga seperti yang ditunjukkan Eny menjadi modal berharga bagi Yaqut untuk tetap tegar.



